Pages

July 30, 2004

Kasus Monsanto

Investigasi

Benih Sakti Menuai Dendam

Perkembangan kapas di Indonesia mengkhawatirkan. Para petani kapas nyaris putus asa. Kapas sakti akhirnya datang memberi harapan. Tiga kali panen bisa naik haji. Tapi, kapas super itu harus menuai kontroversi.

BALLEANGING, akhir Juni 2004. Desa kecil yang sejuk ini tak bisa dikatakan terpencil, tapi memang jauh dari hiruk-pikuk. Ada jalan raya beraspal melintasi desa itu, tapi kondisinya sudah keropos dan berlubang di sana-sini. Tak banyak kendaraan lalu lalang. Lengang. Di pinggir jalan terhampar terpal-terpal sebagai alas menjemur cokelat. Di sisi kiri dan kanan jalan masih tampak beberapa petak kebun kapas yang baru ditanami.

Desa Balleanging terletak sekitar 8 kilometer dari ibu kota Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Tiba di desa ini, setelah perjalanan hampir satu jam dari kota Bulukumba, tampak rumah-rumah kayu, berjejer dengan jarak tak teratur. Ada rumah yang baru dibangun, tapi tak sedikit yang sudah tua.

Saya berjumpa dengan seorang petani di kebun kapasnya. Namanya Mardjuni. Ia sedang tekun memeriksa lembar demi lembar daun kapas yang masih muda. Tinggi pohon kapas itu baru sejengkal dari tanah. "Saya tidak mau lengah, takut sudah ada hama yang nempel," kata Mardjuni.Kapas jenis Kanesia 7 yang ditanam Mardjuni memang memerlukan perhatian lebih. "Sekarang saya memilih menanam Kanesia daripada kapas transgenik dari Monsanto. Saya bersumpah tak akan lagi mau memakai bibit apa pun yang mereka tawarkan," kata Mardjuni dengan suara meninggi.

Nama Monsanto tak akan pernah hilang dari ingatan Mardjuni dan petani kapas lainnya di Sulawesi Selatan. Perusahaan bioteknologi raksasa asal Saint Louis, Amerika Serikat, itu hingga saat ini masih membuat hati Mardjuni panas bukan main. Desa Balleanging dan sejumlah desa lainnya pernah jadi saksi bisu kegagalan proyek kapas transgenik yang ditawarkan Monsanto.

Pada 2001, benih kapas transgenik memang sempat memberi harapan. Apalagi bagi petani yang sudah merasakan bagaimana sulitnya mendapat benih kapas. Sambil menikmati teh hangat dan pisang goreng renyah yang disuguhkan oleh sang istri, Mardjuni pun mulai berkisah.Sejak 1975, Mardjuni menjadi petani kapas. Tiap hari, ketika matahari belum lagi sempurna muncul di ufuk timur, ia selalu menyempatkan diri menunaikan tugas rutinnya. Usai salat subuh, masih mengenakan kopiah, kaus, dan sarung, Mardjuni menengok kebunnya yang --untuk ukuran masyarakatnya-- dekat dari rumah.

Bersama istri dan kadang juga anak atau cucunya, Mardjuni biasa berjalan kaki menerobos segarnya halimun, melewati jalan aspal yang sudah berlubang di sana-sini. Kurang lebih satu kilometer, Mardjuni belok kiri, keluar dari jalan desa, memasuki hamparan ilalang. Ia kemudian menyusuri jalan setapak yang lebarnya tak lebih dari dua jengkal dan nyaris tertutup belukar.

Setelah melewati area kebun kakao, sekitar satu kilometer lagi dari jalan desa itulah terhampar kebun Mardjuni. Di kebun seluas dua hektare itu, Mardjuni menanam berbagai jenis komoditas yang bisa menopang kehidupan keluarganya sehari-hari. Dari jambu mete, jagung, cokelat, sampai kapas. Tapi, dari semua tanaman itu, Mardjuni memang memberi perhatian lebih pada kapas.Khusus untuk kapas, Mardjuni menyediakan satu hektare lahannya. Soalnya, iklim di desanya memang sangat cocok untuk tanaman kapas. Desa Balleanging, di ujung selatan Sulawesi Selatan, memang terkenal sebagai daerah pengembangan kapas. "Kapas juga memberi keuntungan lebih dibandingkas dengan komoditas lain," kata Mardjuni dengan dialek Bulukumba yang kental.

Cuma, selain menjanjikan keuntungan lebih, kapas ternyata tumbuhan yang sangat manja. Mardjuni sendiri sering puyeng. Betapa tidak, banyak hama yang doyan menempel di kapasnya. Yang paling sering nongkrong di daun kapasnya adalah hama peka buah, penggerek pucuk, dan ulat buah yang berwarna merah jingga.

Akibatnya, Mardjuni harus mengeluarkan biaya lebih untuk pestisida yang harganya juga makin hari makin meninggi. Pendapatan petani kapas di desanya pernah tertekan hingga ke titik sangat rendah. Harga kapas, yang semula rata-rata Rp 2.200, ambruk menjadi Rp 1.650.Biaya perawatan pun lebih banyak, sekitar 60%, dimakan untuk membeli pestisida. Untuk satu kali musim tanam, Mardjuni harus melakukan 12 kali penyemprotan. Penggunaan pestisida dalam jumlah cukup banyak membuat hama kebal terhadap jenis pestisida tertentu.

Selain itu, banyak serangga yang berguna bagi tanaman ikut bergelimpangan di ladang. Memang, kala itu, mendapat bibit bermutu susahnya minta ampun. Kalaupun ada, harganya selangit. "Saya suka sakit hati kalau sudah panen, eh, hasilnya jauh dari yang diharapkan," kata Mardjuni.

Nasib malang juga menimpa Santi Sudarti. Petani kapas dari Desa Ujungloe ini sering gagal panen. Kebunnya yang tak seberapa luas terpaksa ditanami tumbuhan apa saja, agar tidak menganggur. Tapi, Santi tetap berharap bisa mendapat benih kapas yang bagus.Makanya, ketika tahun 1998 mendengar selentingan ada benih kapas yang mutunya jauh lebih bagus dari kapas biasa, Mardjuni, Santi, dan petani lainnya langsung bersemangat. "Saya sih selalu berharap ada benih sakti yang bisa meningkatkan pendapatan kami di sini. Waktu itu saya pikir, akhirnya mukjizat datang juga," kata Santi, Ketua Kelompok Tani Wanita ini.

Apalagi ketika didengarnya bahwa kapas pendatang baru itu lebih cakep dan tahan terhadap hama pula. "Pegawainya bilang, hanya dengan tiga kali panen, kami bisa naik haji," kata Santi, lugu. Beberapa kali kesempatan, Santi dan kelompoknya memang sering disambangi pegawai lapangan dari PT Branita Sandhini, perusahaan khusus yang menjual benih kapas transgenik.

Para petani itu percaya, dengan menanam kapas transgenik, mereka tak perlu lagi repot mengurus jual-belinya. "Katanya, mereka menyediakan benih dan membeli hasil panennya. Kami hanya menanam," kata Santi. Toh, Mardjuni dan Santi harus rela bersabar. Kapas "bule" yang bernama Bollgard itu masih harus diuji keamanan hayatinya.

Pada 1999, hanya tiga daerah tetangga Bulukumba yang diperkenankan menanam kapas jenis "unggul" ini, yaitu Kabupaten Takalar, Jeneponto, dan Bantaeng. Luasnya pun dibatasi hanya 450 hektare dengan 668 petani pengelola. Selama masa pengujian, Mardjuni, Santi, dan petani lainnya sering menengok perkembangan kapas yang kemudian dikenal sebagai kapas transgenik itu.

Pulang dari mengunjungi lahan percobaan itu, Mardjuni tak habis-habisnya bercerita pada petani di desanya. "Saya lihat bongkolnya jauh lebih besar, artinya kapasnya juga lebih banyak," katanya kepada mereka yang belum sempat melihat sosok kapas itu."Kassa' tongki sama hama," promosi petani lain dalam bahasa daerah yang artinya kebal hama. Mereka pun menunggu dengan harap-harap cemas. Apalagi didengarnya, para petani yang melakukan tanam kapas percobaan itu bisa untung gede. "Satu hektare katanya bisa menghasilkan kapas hingga empat ton," kata Mardjuni. Siapa yang tak ngiler?

Perjalanan Melelahkan

MARDJUNI dan petani di Desa Balleanging belum bisa bersukacita. Pada tahun 2000, Menteri Negara Lingkungan Hidup saat itu, Sonny Keraf, belum mengizinkan kapas jenis itu dikembangkan. Sonny khawatir, kapas super itu bisa merusak lingkungan. Apalagi, kapas itu memang belum mengantongi analisis mengenai dampak lingkungan.

Penandatanganan perjanjian kerja sama antara PT Monagro Kimia, anak perusahaan Monsanto, yang kala itu rencananya dilakukan di Kantor Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Rizal Ramli, terpaksa tertunda. Tapi, desakan dari petani makin menjadi.Dalam memperjuangkan kapas idaman itu, Mardjuni tidak sendiri. Ia didukung oleh H. Makkarasang. Kala itu, Makkarasang menjabat sebagai Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan.

Ketika saya menemui Makkarasang di rumah pribadinya di Makassar, pria berumur 62 tahun ini sedang bersiap menuju daerah kelahirannya, Jeneponto. "Saya jadi Ketua Partai Pelopor di kampung saya," katanya. Bicara soal transgenik, Makkarasang sama semangatnya seperti membahas soal politik.

Makkarasang mengenal kapas transgenik jauh sebelum masuk ke Indonesia. Atas undangan Monsanto, Makkarasang bersama rombongan pejabat dan pengusaha dari Thailand, Cina, dan negara ASEAN lainnya diundang melihat dari dekat hasil penelitian Monsanto di Australia, tahun 1994."Saya takjub melihat hasil pengembangannya di sana. Waktu itu, saya malah mau mengambil segenggam agar bisa diteliti di Indonesia," kata Makkarasang, mengenang. Sejak itu, lulusan IPB tahun 1972 ini memang sudah berniat, suatu saat kapas itu harus masuk Indonesia.

Makkarasang kemudian giat memperjuangkan agar kapas transgenik itu bisa pula dinikmati petani di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan. Makkarasang juga dibantu Prof Dr. Ibrahim Manwan, peneliti dari Badan Litbang Pertanian Universitas Hasanuddin, yang ditunjuk pemerintah mengawasi perkembangan kapas transgenik tersebut.

Dalam umurnya yang ke-71, Ibrahim yang bertubuh kurus itu masih tampak bugar ketika saya menemuinya di rumah pribadi model tua zaman kolonial di Makassar. Sampai saat ini, ia menjabat sebagai Ketua Tim Penilai dan Pelepas Varietas (TP2V), Badan Benih Nasional, yang dipegangnya sejak 1987.

Lepas tidaknya kapas transgenik di Indonesia bergantung pada timnya. Sebelumnya memang introduksi varietas kapas transgenik ke Indonesia dilakukan pada 1998, melalui persetujuan pemasukan benih oleh Badan Litbang Departemen Kehutanan dan Perhubungan. Selanjutnya dilakukan uji labratorium di Balitbio, Bogor, dan uji lapangan terbatas di tiga kabupaten: Takalar, Jeneponto, dan Bantaeng, pada 1999.

Sebagai peneliti, Ibrahim sangat bersemangat melakukan terobosan teknologi maju. "Selama ini, aplikasi teknologi maju berlangsung lamban. Karena itu, kita harus berani mencoba produk rekayasa genetika," kata Ibrahim, yang juga alumnus Louisiana State University, Amerika, ini. Apalagi, Ibrahim melihat Sulawesi Selatan sangat potensial sebagai penghasil kapas terbesar di Indonesia.

Menurut dia, daerah inilah yang paling pas menjadi pelopor pengembangan kapas rekayasa genetik tersebut. Atas imbauan pemerintah pusat dan daerah, bersama timnya, Ibrahim melakukan evaluasi teknis fasilitas dan lapangan terbatas, analisis risiko lingkungan (ARL), uji multilokasi, dan evaluasi keamanan pangan (biji kapas)."Setelah melakukan pengujian dan pengamatan langsung, saya yakin kapas ini tidak berbahaya," kata Ibrahim.

Pada musim tanam 2000, akhirnya dilakukan uji multilokasi terhadap kapas transgenik dari varietas NuCOTN 35 B, DP 5690, dengan varietas lokal Kanesia 7 sebagai pembanding. "Hasilnya sungguh jauh berbeda, dan tentu saja membuat petani senang," kata Ibrahim.

Rekomendasi yang bagus dari sejumlah peneliti inilah yang kemudian membuat para petani kapas, termasuk Mardjuni, mendesak Menteri Pertanian melalui DPRD dan DPR segera menyetujui pelepasan benih itu. Ternyata, urusannya tak mudah, karena muncul pro-kontra dari segala penjuru.Aksi demo pun marak. Konsorsium Nasional untuk Pelestarian Hutan dan Alam Indonesia (Konphalindo) dan sejumlah LSM berusaha keras mencegah masuknya kapas hasil rekayasa itu. Tapi, para petani telanjur terpikat oleh kapas itu. "Mereka hanya tahunya berdemo, tapi tidak mengerti kebutuhan petani akan bibit unggul," kata Mardjuni.

Mardjuni waktu itu tidak habis mengerti, mengapa para aktivis itu tidak setuju kapas Bollgard ditanam. Makanya, ayah tiga anak ini balas menggerakkan petani untuk berdemo di DPRD, kantor gubernur, bahkan DPR pusat. "Saya malah ikut memimpin demo itu," kata Mardjuni.

Aksi berbalas demo yang makin sering membuat pemerintah akhirnya menyerah. Penantian petani terhadap kapas super itu pun berakhir pada 2001. Desa Balleanging masuk dalam wilayah yang mendapat izin mengembangkan kapas dengan kode Bt itu (BT=Bacillus thuringencies). Surat keputusan (SK) bernomor 107/2001 itu ditandatangani pada 11 Januari 2001, diikuti dengan banyak catatan.

Meski SK bernomor 107 itu telah ditandatangani, bukan berarti kapas itu sudah bebas ditanam. SK itu perlu didukung surat lain untuk pelepasan benihnya dan harus dikeluarkan Dirjen Perkebunan RI --waktu itu dijabat oleh Agus Pakpahan. Surat inilah nantinya yang menjadi tiket Bollgard melenggang masuk Indonesia.Agus memilih hati-hati. Ia tak mau buru-buru menyetujui pelepasan benih itu.

"Saya menjaga agar jangan sampai keseleo," kata Agus, ketika saya menemuinya di kawasan Menteng, Jakarta, beberapa waktu lalu. Setelah mendapat tekanan dari atas, bahkan Agus sempat cekcok dengan Bungaran Saragih sehingga ia melepas jabatannya sebagai dirjen, Agus akhirnya menandatangani surat pelepasan benih itu. Tapi dengan berbagai syarat. Misalnya, pengembangan kapas itu hanya terbatas di tujuh kabupaten, yaitu Gowa, Takalar, Bataeng, Bulukumba, Bone, Soppeng, dan Wajo. SK ini juga hanya berlaku satu tahun sejak dikeluarkan dan akan ditinjau setiap tahun. Selama pengembangan tersebut akan diawasi oleh Tim Pemantau dan Pengawasan Penggunaan Kapas Transgenik (TP3KB).

Pada 15 Maret 2001, sebuah pesawat carteran dari Afrika Selatan mendarat di Bandara Hasanuddin, Makassar. Pesawat ini membawa 48 ton benih kapas Bollgard. Di bandara, sebuah truk tertutup telah menanti untuk membawa benih itu ke Bulukumba dan sekitarnya. Tanpa melalui proses karantina seperti umumnya produk-produk asing yang masuk ke Indonesia, benih transgenik itu melenggang keluar bandara.

Para aktivis lingkungan sudah siap menunggu kedatangan kapas itu di Bandara Hasanuddin. Mereka berharap bisa mencegah kapas itu dibawa ke Bulukumba dan sekitarnya. Selain mencegah masuknya produk rekayasa genetika yang belum teruji itu, mereka juga protes karena bibitnya yang berasal dari Afrika Selatan."Bibit yang sudah diuji di sini itu adalah bibit yang berasal dari Australia, kenapa yang datang malah dari Afrika Selatan?" kata Ida Ronauli dari Komphalindo. Tapi, para aktivis ini kecele. Soalnya, sejak dari bandara, kapas ini dikawal oleh satuan polisi. Tak satu pun yang bisa mendekat.

Impian Mardjuni dan para petani di desanya pun terwujud. Kapas keren itu sudah bisa tumbuh di lahan mereka. Tapi, aksi demo-mendemo makin kencang. Sejumlah LSM malah menuntut Menteri Pertanian Bungaran Saragih ke pengadilan gara-gara menandatangani SK 107 itu.

Ketika kasus itu disidangkan, Mardjuni nekat terbang ke Jakarta bersama 52 petani untuk berdemo di pengadilan. "Kami tentu saja ingin membela Pak Menteri," kata Mardjuni. Bungaran Saragih bisa bernapas lega. Pengadilan menyatakan, ia tak bersalah dan sudah melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Untuk sementara, semua orang mengembuskan napas. Ada yang lega, tapi tak kurang yang hanya bisa mengurut dada.


Riwayat Argentina Nasib Indonesia

Diniatkan sebagai upaya mengatasi kemiskinan. Jadi ladang bisnis yang justru merugikan petani.

PARA aktivis Konsorsium Nasional untuk Pelestarian Hutan dan Alam Indonesia (Konphalindo) termasuk yang kecewa dengan keputusan pengadilan terhadap Bungaran Saragih. Tapi, kekecewaan mereka lebih pada kekhawatiran masuknya produk rekayasa genetika yang sebetulnya belum teruji betul. "Kalau tak hati-hati, negara berkembang termasuk Indonesia sedang diincar sebagai tempat potensial pengembangan produk-produk rekayasa genetika," kata Tejo Wahyu Jatmiko dari Konphalindo.

Kekhawatiran Tejo dan kawan-kawannya cukup beralasan. Di Amerika, tekanan dari industri bioteknologi memang mampu mendorong Gedung Putih untuk mengumumkan bahwa "tidak ada perbedaan antara benih hasil rekayasa dan nonrekayasa". Tapi sebuah dokumen rahasia yang dibuka ke publik mengungkapkan bahwa ilmuwan Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) tidak setuju dengan pernyataan tersebut."Perkembangan teknologi genetika saat ini sangat cepat, sementara dampak negatifnya juga tak kalah banyak," kata Tejo.

Dampak negatif itu rupanya juga ditemukan oleh sejumlah ilmuwan FDA. Di antaranya bahwa tanaman rekayasa yang pada umumnya tahan herbisida dapat merusak diversifikasi tanaman, sekaligus mengikis keanekaragaman pertanian sepanjang masa. Lebih parah lagi, gen ini bisa melahirkan spesies baru dan menghadirkan gulma super.

Tapi, perusahaan bioteknologi dari negara maju berpendapat bahwa teknologi rekayasa genetika --lebih sering disebut transgenik-- sangat dibutuhkan untuk memecahkan masalah kelaparan dunia tanpa membahayakan lingkungan. Produksi padi bisa berlimpah tiga sampai empat kali lipat. Demikian pula dengan jagung. Negara-negara miskin yang memiliki tingkat kemiskinan tinggi tentu saja mudah terkagum-kagum.

Dalam bayangan, organisme hasil rekayasa ini merupakan terobosan ilmiah dan mampu memberi makan dunia, memecahkan masalah pertanian, dan menjadi peluru ajaib menuntaskan kemiskinan petani. "Tapi, kita jangan terlena. Jangan sampai kita hanya jadi lahan bisnis," kata Tejo.Negara Argentina merupakan contoh nyata. Sejak 1996, Argentina menggunakan kedelai transgenik RoundUp Ready (RR) yang tahan terhadap herbisida. Kedelai transgenik masuk ke Argentina dengan janji biaya produksi rendah, pemeliharaan mudah, serta hanya butuh pupuk dan pestisida dalam jumlah kecil.

Adalah Monsanto --menguasai 90% pasar transgenik dunia-- yang membawa kedelai transgenik itu masuk ke negeri asal Che Guevara itu. Monsanto memberikan subsidi benih kedelai RR. Perusahaan itu juga memberikan harga super murah untuk pembelian glyphosate, jenis herbisida yang juga diproduksi Monsanto. Sejak itu, terjadi peningkatan areal kedelai besar-besaran, dari 38.000 hektare pada 1970 menjadi 14 juta hektare di tahun 1996. Hampir semuanya ditanami kedelai transgenik. Sebagian ditanami produk transgenik lainnya, seperti kapas dan jagung.

Kenyataannya, kedelai RR membutuhkan lebih banyak herbisida dibandingkan dengan kedelai biasa. Penggunaan herbisida glyphosate malah berlipat ganda. Dari jumlah 28 juta liter pada periode 1997-1998 menjadi 56 juta liter pada 1998, bahkan mencapai 100 juta liter pada musim terakhir di 2002. Monsanto sih senang-senang saja. Wong, glyphosate itu toh produksi dia juga.

Hasilnya, panen kedelai RR 5% hingga 10% lebih sedikit dibandingkan dengan varietas biasa yang ditanam dalam kondisi tanah yang sama. Para peneliti dari Universitas Arkansas, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa perkembangan akar, formasi nodule, dan fiksasi nitrogen yang terburuk ada pada sejumlah varietas kedelai RR. Lebih parah lagi, muncul 15 jenis gulma super yang kebal herbisida, antara lain Commelia erecta, Convolvulus arvensis, dan Ipomoea purpurea.

Masalah tak berhenti sampai di situ. Ketika ekonomi Argentina memburuk, petani makin bergantung pada produk tersebut. Monsanto mulai menarik royalti atas benihnya. Padahal, sebelumnya Monsanto membolehkan petani menyimpan benih. Para aktivis lingkungan hidup tidak mau hal tersebut terjadi di Indonesia. "Dari segi lingkungan, kita bisa tercemar. Dari segi ekonomi dan bisnis, kita bisa dimanfaatkan," kata Ida Ronauli, yang juga anggota Konphalindo.

"Mestinya kita mengambil hikmah dari Argentina."Apa mau dikata, Menteri Bungaran Saragih sudah menandatangani tiket kapas transgenik. Agus Pakpahan, yang awalnya menolak, terpaksa pula menandatangani pelepasan benih NuCTN 35 alias Bollgard itu. Untuk sementara, aktivis lingkungan hidup hanya jadi penonton luar. Perjuangan toh tak hanya akan berhenti sampai di situ.

Putih Murni Pamer Belang

KEKHAWATIRAN Tejo dan kawan-kawan ternyata terbukti di kemudian hari. Kegembiraan petani menanam benih kapas transgenik tak bisa berlangsung lama. Tak sengaja, saya mendapat fotokopi berkas perjanjian kerja sama PT Branita Sandhini (Branitha) --pengelola suplai bibit dari PT Monagro Kimia dan sepenuhnya bekerja di bawah perintah Monagro-- dengan wakil para petani Desa Balleanging, yang ditandatangani pada Senin 28 Mei 2001.

Penanda tangannya adalah IGB Gangga Suryana dari Branitha --tapi juga berstatus pegawai Monagro-- sedankan dari petani diwakili Mardjuni, Muh. Arsyad, Andi Daruma, dan Bahrun. Isi perjanjiannya sungguh menyenangkan tapi juga mengekang. Intinya, Branitha menyediakan semua kebutuhan petani, sebagai fasilitator sekaligus pembeli nantinya. Branitha dalam perjanjian itu malah sudah menetapkan harga beli Rp 2.600 per kg untuk kualitas A dan Rp 2.250 per kg untuk kualitas B kapas hasil panen nanti.

Kualitas A adalah kapas berbiji dengan kadar air maksimum 7%-9%. Bebas dari kotoran dan kontaminasi, termasuk plastik dan rambut. Kelopak telah membuka sempurna, berwarna putih bersih, serta biji dalam keadaan baik dan bernas. Kualitas B berkadar air sama dengan A, tapi terdapat sedikit kotoran dan terkontaminasi, berwarna kurang cerah dan agak kekuningan, serta biji yang sebagian dalam keadaan rusak dan menghitam.

Dalam perjanjian Pasal 5 tentang Risiko disebutkan: "Apabila pada satu musim tanam Petani mengalami kegagalan panen, dan/atau hasil panen tidak memenuhi kualitas dan/atau hasil panen tidak menyebabkan harga jual lebih tinggi dari harga saprodi oleh sebab apa pun juga, maka petani menanggung risiko ini dan harga saprodi tetap terutang kepada Branitha dan akan diperhitungkan dengan hasil panen serta harga saprodi untuk musim tanam berikutnya."Di dalamnya terlampir pula surat perjanjian utang. Isinya menyatakan bahwa petani berutang untuk pembelian sarana produksi (saprodi), antara lain benih kapas, pupuk, dan pestisida.

Pengembalian utangnya diperhitungkan dari hasil panen dikurangi harga saprodi.Masalah kemudian muncul. "Semua perjanjian berubah di tengah jalan. Mereka selalu memutuskan sendiri kebijakannya tanpa memberitahukan dulu kepada petani," kata Mardjuni, mulai memanas. Contohnya, dalam perjanjian dengan petani, para penyedia bibit ini memperhitungkan benih seharga Rp 40.000 per kg.

Seiring dengan berjalannya waktu, ketika musim panen hampir tiba, pihak Branitha mengumumkan bahwa harga bibit naik dua kali lipat, Rp 80.000 per kg. Belakangan malah melonjak menjadi Rp 120.000. "Kami kan bingung, tapi mau apa lagi, kita sudah tanam bibitnya," kata Mardjuni, pasrah.

Perubahan itu pun terpaksa disetujui. Petani makin gondok ketika musim panen menjelang, Branitha mengumumkan lagi bahwa mereka mau membeli hasil kapas itu hanya seharga Rp 2.200 per kg. Ketika panen tiba, lagi-lagi Branitha mengeluarkan pengumuman baru. Nilai beli kapas turun menjadi Rp 2.000.Memang sih, hasilnya luar biasa. "Ada petani yang tanam dua hektare, dengan perhitungan modal kira-kira Rp 4 juta, bisa untung sampai Rp 12 juta," kata Zulkarnaen, seorang petani lainnya. Tak hanya itu. Ketika pertama kali Bollgard diperkenalkan, Branitha menjanjikan insentif kepada setiap petani sebanyak 2% dan 2,5% untuk ketua kelompok tani dari hasil pemasukan dan produksi.

Setelah kelompok ini mendapat hasil banyak, Branitha lagi-lagi mengubah aturan. "Tunggakan diperhitungkan juga. Padahal, aturan pembayaran premi tidak boleh begitu," kata Zulkarnaen lagi. Pembayaran preminya pun berubah. Awalnya, dalam perjanjian, para petani dijanjikan dalam bentuk uang.Belakangan, Branitha ogah membayar dengan uang tunai, tapi malah membayar dengan bibit jati, hibrida, atau jagung. Masalahnya, tidak semua petani butuh bibit itu. "Kalau dikasih bibit kapas, mungkin saya masih terima. Masak saya dikasi bibit jagung, padahal saya sudah tanam jagung. Saya juga dikasih bibit jati, di mana saya mau tanam jati? Itu kan tidak logis," tutur Zulkarnaen.

Hal lain yang makin membuat petani panas hati adalah harga pupuk yang juga dinaikkan secara sepihak. Padahal, dalam kesepakatan yang ditandatangani bersama, harga pupuk dibanderol Rp. 60.000 per sak. Tapi, ketika musim tanam sedang berlangsung, harga pupuk lantas dikerek menjadi Rp 80.000.Petani yang mulai merasakan gejala-gejala tak beres ini kemudian membandel. Ketika menjual kapasnya, beberapa petani mencampur kapas itu dengan tempurung kelapa bahkan batu dalam karung kapas. "Mereka bilang harga batu itu sesuai dengan harga-harga kenaikan yang tak jelas," kata Daeng Taba, anggota kelompok tani dari Desa Ujungloe.

Santi Sudarti bersama kelompok taninya malah lebih nekat. Kapas hasil panennya dibakar. Mereka terjerat dengan klausul kontrak yang menyebutkan, "Jika panen gagal, petani yang harus menanggung risiko ini dan diharuskan menanam kapas transgenik Bollgard lagi hingga utangnya lunas."Juga ada klausul yang menyebutkan, jika perusahaan menganggap petani menelantarkan ladang kapas transgenik Bollgard, mau tidak mau dia harus menyerahkan tanahnya kepada kelompoknya (Perjanjian Kerja Sama; Surat Perjanjian Utang Musim Tanam 2001). Parahnya lagi, kapas transgenik itu ternyata tidak sesakti yang digembar-gemborkan.

Diawali serangan hama, ketika daun kapas menjadi merah, mengering, dan keriting. Menurut para ahli, termasuk Prof. Ibrahim, itu semua masih dalam batas toleransi dan tidak mengkhawatirkan. Target empat ton kapas per hektare ternyata jauh dari harapan. Rumor tentang kesaktian kapas itu luntur sudah.

Kebun Santi, misalnya, hanya mampu memproduksi kapas transgenik kurang dari 500 kg per hektare. Branitha malah balik menyalahkan Santi karena kurang telaten merawat kapasnya. Sesuai dengan perjanjian Pasal 5, Branitha ogah membeli kapas dari lahan yang tidak mencapai target. Perusahaan lain juga tak bersedia membeli, karena kapas transgenik mutlak milik Branitha. Mereka memang terikat kontrak "eksklusif" dengan satu perusahaan. Mau mengadu, tapi ke mana? "Akhirnya kami bakar saja kapas itu beramai-ramai," kata Santi.

Ternyata banyak Santi-Santi yang lain. Data yang saya dapatkan dari Dinas Perkebunan Sulawesi Selatan, yang disampaikan Kepala Dinas Ir. Makkarasang, hanya 2% petani yang produksinya empat ton. Kalau diamati, terdapat sekitar 74% lahan yang ditanami kapas transgenik dengan produktivitas kurang dari satu ton per hektare (lihat tabel).Dari 4.364,20 hektare areal tanam kapas transgenik, sekitar 522,43 hektare yang gagal total, tidak memberikan hasil sedikit pun. Kegagalan dan rendahnya hasil panen mengakibatkan petani berutang kepada perusahaan pemilik kapas transgenik Bt. Berdasarkan data tersebut, rata-rata hasil kapas transgenik Bt hanya 1.121 kg per hektare.

Tapi, untuk sementara, petani yang apes terpaksa hanya bisa mendongkol, sebagian malah membakarnya. Petani yang beruntung bisa ongkang-ongkang kaki. Masalah lain menyusul kemudian.

Si Putih Pemikat Hama

MENGAPA Bollgard begitu menarik? Data-data di Departemen Perkebunan menunjukkan, komoditas kapas sejak dulu memang menyedihkan. Produksi kapas di Indonesia hanya mampu memenuhi 1% kebutuhan penduduknya. Selebihnya, Indonesia sangat bergantung pada Amerika dan Australia.

Padahal, pengembangan kapas nasional dimulai pada 1960 di daerah Nusa Tenggara dan Asembagus (Jawa Timur). Sayangnya, industri ini tersendat karena memang saat itu pemerintah belum memiliki fasilitas memadai. Pengembangan kapas di Sulawesi Selatan kemudian dimulai tahun 1973, melalui Perusahaan Umum Perkebunan dan Kapas Indonesia (PUPKI).Usaha perkebunan ini juga tidak berkembang baik karena dikelola melalui swadaya petani. Waktu itu tidak ada jaminan pembelian hasil, karena PUPKI tidak mempunyai dana.

Kesulitan lain yang dihadapi, kapas biji yang dihasilkan petani harus diolah di Jawa Timur karena belum tersedia ginnery di Sulawesi Selatan.Periode 1978 hingga 1990, Direktorat Jenderal Perkebunan menunjuk PTP XXIII sebagai perusahaan pengelola yang menyiapkan dana untuk pengadaan sarana produksi melalui pinjaman BankExim. Periode ini disebut juga periode Intensifikasi Kapas Rakyat (IKR).Dari 1978 hingga 1982, pengembangan kapas langsung ditangani Direktorat Jenderal Perkebunan melalui pola Unit Pelaksana Proyek IKR.

Pada masa ini, pengendalian hama menggunakan sistem kalender, yaitu penyemprotan dilakukan sebanyak 7-9 kali dengan interval 7-10 hari.Awalnya, insektisida yang digunakan adalah formula EC, dan mampu menghasilkan produksi cukup tinggi, yaitu 1.100-1.200 kg per hektare. Berkembangnya areal penanaman kapas menyebabkan petani kesulitan memperoleh air untuk penyemprotan. Karena itu, pada 1981 diperkenalkan insektisida dengan formula ULV (ultra-light volume) yang bisa langsung disemprotkan tanpa menggunakan air. Sayangnya, saat menggunakan sistem ini, terjadi penurunan produksi hingga 700-800 kg per hektare.

Akhirnya, pada 1983, pengelolaan kapas dimasukkan dalam Bimas (Bimbingan Masyarakat), sehingga seluruh instansi terkait ikut terlibat dalam penanganan kapas. Perubahan pola penanganan justru membuat produktivitas menurun hingga 600 kg per hektare. Tapi, tahun berikutnya, produksi meningkat jadi 1.000 kg per hektare.

Penurunan drastis kembali terjadi dua tahun berturut-turut, 1985 dan 1986. Produksi menjadi hanya 477 kg per hektare. Ini akibat kebijakan pemerintah melakukan pengendalian hama terpadu, padahal teknologi pendukung belum memadai, sehingga terjadi booming hama Heliothis sp.

Akhirnya penanganan IKR di tingkat pusat dikembalikan ke Ditjen Perkebunan, sedangkan di tingkat provinsi dan kabupaten masih di bawah koordinasi Bimas. Heliothis sp makin mewabah, dan diperparah dengan munculnya hama baru, yaitu Pectinophora sp, sehingga produksi kapas jatuh menjadi hanya 267 kg per hektare.Animo petani untuk menanam kapas pun menurun.

Areal penanaman kapas ikut turun drastis dari 25.900 hektare pada 1985 menjadi 6.700 hektar pada 1988. Menyikapi penurunan akibat hama ini, formula insektisida diganti lagi menjadi EC dan berhasil menaikkan tingkat produksi kurang lebih 450 kg per hektare.

Pada akhir 1990, pemerintah kemudian memberlakukan Paket Januari (Pakjan) yang memperketat aturan penyaluran kredit. Aturan ini membuat areal tanam makin turun hingga tinggal 2.990 hektare. Tahun berikutnya, pengembangan kapas dilakukan dengan Pola Pengembangan Perkebunan Wilayah Khusus (P2WK).Dana pengadaan sarana produksi (saprodi) pada tahun pertama berasal dari APBN, yang selanjutnya akan digulirkan kembali melalui Simpeda pada BPD Sulawesi Selatan atas nama setiap kelompok tani. Pola ini membuat areal tanam meningkat kembali mejadi kurang lebih 19.800 hektare pada 1993.

Produktivitas juga lumayan, mencapai 500-700 kg per hektare. Akhir periode ini, perusahaan pengelola swasta mulai diizinkan bergabung. Tahun 1994, beberapa perusahaan tekstil sebagai pengelola kapas mulai menerapkan pola kemitraan dengan petani. Dengan demikian, pendanaan kapas tidak semata berasal dari pemerintah, melainkan juga dari swadana pengelola serta kredit perbankan (KKPA).

Sayangnya, proses produksi makin bergantung pula pada insektisida karena tingginya tingkat serangan hama. Pemerintah kemudian melakukan peningkatan sumber daya manusia dengan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu. Para peneliti juga berupaya menciptakan varietas-varietas baru demi mendapatkan benih yang tangguh. Belum lagi itu berhasil dilakukan, saat itulah transgenik diperkenalkan.

Rekayasa Silang Gen

KAPAS transgenik harus diakui sebagai varietas yang hebat. Dia memang tahan hama. Betapa tidak, di dalam tubuhnya memang mendekam racun. Kapas yang disebut juga kapas Bt ini diproses dengan cara menggunting gen kapas dan menggabungkannya dengan virus atau racun Bt.

Virus Bt adalah virus yang biasa dipakai untuk bahan pestisida penghancur hama tanaman. Di kalangan ilmuwan, timbul pemikiran sederhana: bagaimana jika untuk membuat kapas tahan hama, obat hamanya dimasukkan saja ke dalam gen.

Susunan genetik kapas biasa diubah agar tahan terhadap serangan hama dengan memproduksi toksin. Yang umum digunakan adalah racun yang diproduksi oleh bakteri tanah yang terdapat secara alami, yaitu Bacxillus thuringiensis atau disingkat Bt.

Bt merupakan favorit para petani untuk menyemprot tanaman mereka. Zat ini hanya menjadi racun aktif pada usus larva serangga tertentu. Para ilmuwan memisahkan atau menggunting gen Bt yang menghasilkan toksin ini ke dalam berbagai tumbuhan, seperti jagung, kedelai, dan kapas.

Namun, toksin Bt yang dihasilkan tanaman merupakan bentuk aktif yang mampu membunuh atau merusak berbagai macam serangga. Bahkan serangga yang berguna, seperti kupu-kupu, lebah, dan serangga penyerbuk lainnya, ikut terbunuh. Ketika para petani menyemprotkan toksin Bt pada tumbuhan, cahaya matahari dan mekanisme lainnya menguraikannya secara cepat dalam beberapa hari.

Tapi, cara kerja Bt yang terdapat dalam tanaman hasil rekayasa genetika berbeda. Adanya produksi secara terus-menerus oleh tubuh tanaman membuat toksin tersebut berkumpul dalam tingkat lebih tinggi di dalam sel. Racun ini memang sangat kuat untuk membuka usus serangga. Dan pada tingkat lebih tinggi, ia akan menyebabkan beberapa konsekuensi pada hewan, bahkan manusia.

Karena itulah, aktivis lingkungan hidup di seluruh dunia, termasuk Greenpeace, sangat menentang rekayasa genetika yang sampai saat ini belum teruji. Rekayasa genetika sendiri baru berusia sekitar 25 tahun. Metode ini memungkinkan para ilmuwan mengubah DNA (asam deoksiribonukleat) atau susunan genetik makhluk hidup.

DNA atau disebut juga gen adalah zat yang menentukan semua karakteristik makhluk hidup, membedakan wajah manusia satu dengan lainnya, menentukan warna kelopak bunga, dan lain-lain. Para ilmuwan mengakui, pengetahuan tentang DNA hingga saat ini amat minim. Mereka hanya mengetahui fungsi 3%-5% dari gen yang ada. Sisanya disebut DNA sampah. Mereka juga belum mengetahui banyak tentang bagaimana gen beroperasi dan berinteraksi, walaupun genom (buku kehidupan) manusia telah ditranskrip.

Tapi, para ilmuwan sudah mempelajari cara memotong dan menggabungkan helai-helai DNA, memotong gen tertentu dari DNA suatu organisme, dan menyisipkannya ke dalam DNA makhluk lain yang tidak berkerabat. Pemindahan gen biasanya dilakukan menggunakan bakteri atau virus --yang menjadi kurir pembawa gen. Bakteri ini berfungsi menyerang sel inang atau menggunakan pistol gen untuk menembakkan gen ke dalam sel.

Metode ini tidak selalu tepat. Belum ada ahli rekayasa genetika yang dapat mengatakan bahwa gen baru ini akan tersisipkan di bagian mana dari DNA inang. Pemindahan ini merupakan proses acak dan untung-untungan yang tanpa arah. Metode mencampur gen dari spesies yang sama sekali berbeda ini dikenal dengan beberapa istilah: bioteknologi modern, teknologi gen, modifikasi gen, teknologi transgenik, atau rekombinan.


Pusat Tak Peduli, Petani Gigit Jari

Kapas terbengkalai tanpa pembeli. Monsato lepas tangan. Siapa yang harus
bertanggungjawab ?

BANTAENG, Sulawesi Selatan, Maret 2003. Kisah sukses berhubungan dengan kapas transgenik ternyata hanya dicicipi sampai 2002. Daeng Kulle', 54 tahun, sekarang hanya bisa termenung menatapi karung berisi kapas yang teronggok di kolong rumah panggungnya. "Saya bingung mau dijual ke mana kapas transgenik itu," kata Daeng Kulle' dalam dialek khas Sulawesi. "Rugi saya."

Program pengembangan kapas transgenik oleh PT Monagro Kimia terbengkalai. Nasib petani kapas di Sulawesi Selatan yang jumlahnya mencapai 30.000 orang tak menentu. Para petani ini tersebar di tujuh kabupaten, yakni Kabupaten Gowa, Takalar, Bantaeng, Bulukumba, Bone, Soppeng, dan Wajo.

Kapas para petani ini tak ditampung pembeli, sedangkan bibit untuk musim tanam selanjutnya juga tak kunjung datang. Mereka ingin protes ke Monsanto. Ketika bertemu orang yang selama ini dikenal para petani sebagai pegawai Monsanto, mereka mengelak.

Mereka mengaku pegawai PT Branita Sandhini (Branitha) yang hanya menjalankan perintah Monagro. Kala menghadap ke Monagro, para petani itu malah disuruh mengadu ke kantor pusat Monsanto di Amerika. Satu-satunya harapan adalah pemerintah.Gubernur Sulawesi Selatan Amin Syam, yang kala itu baru menjabat, ikut-ikutan gusar. "Dulu mereka mati-matian mau tanam kapas di sini. Setelah diizinkan, malah ogah melepas bibit," kata Amin, kesal. Amin lantas melayangkan surat kepada Menteri Pertanian Bungaran Saragih untuk meminta bantuan.

"Masalah ini sebaiknya diselesaikan pemerintah pusat. Sejak awal, ini datangnya dari pusat," kata Amin.Saat saya minta konfirmasi dengan mencegat Menteri Pertanian menjelang rapat di DPR, Bungaran Saragih malah lempar tanggung jawab ke Pemerintah Daerah Sulawesi Selatan.

"Itu terserah kepada gubernur. Sekarang, kan, otonomi daerah," katanya, singkat.
"Lho, Pak, Departemen Pertanian, kan, tidak bisa lepas tangan. Yang memberi izin dan rekomendasi Monsanto mengembangkan kapas transgenik di daerah itu, kan, Anda juga."
"Izin dari kami dulu hanya menyangkut introduksi. Persoalan yang terjadi di Sulawesi Selatan itu sudah menyangkut bisnis. Monsanto mengaku rugi. Itu sudah urusan petani dengan perusahaannya. Kami di Deptan hanya sebatas memberikan izin introduksi, tidak sampai mencampuri urusan bisnisnya," kata Bungaran.

Tak hanya itu, kapas yang sudah dipanen pun terbengkalai. PT Branitha, perusahaan yang diberi wewenang mengurus dan membeli kapas itu, ogah membeli kapas petani. Keputusan itu adalah perintah PT Monagro Kimia di Jakarta.

Perintah itu berlaku untuk semua petani kapas yang menanam Bollgard. Kalau dulunya mereka hanya mau membeli kapas yang memenuhi target, kali ini tak ada pembelian sama sekali. Petani pun menanggung rugi dan gigit jari.Pemerintah pusat tak peduli, Monagro pun sibuk sendiri. Kapas para petani terbengkalai tanpa pembeli. Dijual ke pihak lain pun mustahil. Soalnya, kapas transgenik itu sudah jadi hak mutlak Monsanto dan perusahaan kepercayaannya, Monagro dan Branitha.

Protokol Cartagena

RUANG Sidang Paripurna DPR, Senayan, Jumat 16 Juli 2004, pukul 10 pagi. Sejumlah aktivis lingkungan tampak siap menunggu. Mereka terdiri dari Indonesian Center for Environment Law (ICEL), Konsorsium Nasional untuk Pelestarian Hutan dan Alam Indonesia (Konphalindo), dan sejumlah aktivis lingkungan lainnya.

Beberapa jam kemudian, mereka tampak menarik napas lega dan semua langsung pasang senyum. DPR-RI akhirnya mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Ratifikasi Protokol Cartagena tentang Keamanan Hayati menjadi UU. "Setelah empat tahun, akhirnya disahkan juga," kata Ida Ronauli dari Konphalindo. Tak lama kemudian, ia mengirim puluhan pesan singkat (SMS) berbunyi: "Teman-teman, akhirnya Protokol Cartagena diratifikasi juga."

Protokol Cartagena --nama kota di Kolombia tempat dicetuskannya ide ini-- adalah protokol yang mengatur perlindungan terhadap keanekaragaman hayati dan kesehatan manusia dari dampak negatif yang ditimbulkan oleh organisme hasil modifikasi genetik (OHMG). Protokol ini penting, mengingat kondisi Indonesia yang memiliki keanekaragaman hayati nomor dua di dunia, dengan kondisi geografis yang rentan terhadap masuknya OHM secara ilegal.

Indonesia menjadi negara ke-101 yang meratifikasi protokol ini. Artinya, produk-produk rekayasa genetika tak lagi bisa lolos seperti ketika kapas transgenik masuk ke Indonesia. Tapi, rupanya ada yang khawatir dengan disahkannya protokol tersebut.Seminggu sebelumnya, Rabu Juli 2004, Edwin S. Saragih, Government and Public Affairs Lead PT Monagro Kimia, menyatakan keberatannya. "Monsanto berpendapat, daripada meratifikasi Protokol Cartagena, kenapa tidak menggunakan regulasi yang ada sekarang, diimplementasikan berdasar fakta dan pertimbangan ilmiah, bukan berdasar praduga terhadap dampak negatif yang belum terbukti," kata Edwin panjang lebar.

Edwin berusaha meyakinkan dengan memberikan contoh proyek kapas transgenik di Sulawesi Selatan. "Berdasarkan pengkajian pakar-pakar dari IPB, UGM, dan Unhas, dua-tiga tahun lalu di Makassar di areal tanaman kapas tidak ditemukan dampak negatif," katanya. Jawaban Edwin terhadap pertanyaan dari anggota DPR di Komisi I serupa dengan jawaban Manajer Humas Monagro, tahun lalu.

Padahal, rapor bisnis Monsanto dicatat dengan tinta merah. Di seluruh dunia, Monsanto dikenal sebagai perusahaan pelopor pengembangan dan pemasaran bibit genetically engineered (GE) atau rekayasa genetik. Monsanto memiliki banyak anak perusahaan yang bergerak di bidang penyediaan bibit hasil rekayasa yang mulai beroperasi sekitar tahun 1996. Hingga saat ini, Monsanto sudah membuat anak perusahaan di hampir 50 negara.

Benih rekayasa genetikanya dijual secara komersial pada 1996 di Amerika. Tapi, di Amerika sendiri, Monsanto yang menguasai 90% pasar bibit transgenik menghadapi banyak tentangan. Dalam menjalankan bisnisnya, Monsanto memang selalu menginginkan kontrak eksklusif dengan petani dengan sejumlah syarat. Salah satunya, benih yang digunakan tidak boleh dipakai lagi alias harus menggunakan benih baru yang juga disediakan Monsanto.

Pada April 2003, Innovest Startegic Value Advisors, perusahaan jasa finansial di New York, mengeluarkan sebuah laporan berjudul Monsanto & Genetic Engineering: Risk For Investors. Monsanto mendapat peringkat CCC EcoValue'21, yang artinya rating terendah untuk keamanan lingkungan.Monsanto memang menyimpan rekam jejak (track record) hitam di bidang kesehatan dan lingkungan. Pada 1962 hingga 1970, Pasukan Amerika menyemprotkan 72 juta liter herbisida, sebagian besar "Agent Orange", di Vietnam. Monsanto adalah produser Agent Orange, senjata herbisida mematikan yang digunakan Amerika untuk menggempur tentara Vietnam.

Di tahun 2002, sebanyak 91% rekayasa genetik yang ditanam berasal dari bibit Monsanto. Meski tanaman rekayasa genetikanya digembar-gemborkan super dan tahan hama, Monsanto juga mencatat penjualan herbisida roundup/glyphosate terbesar di dunia. Semua tanaman Monsanto juga hanya bisa disemprot dengan Roundup produksi Monsanto.

Dalam menjalankan bisnisnya, Monsanto mematenkan benih mereka (plus bahan-bahan kimia). Petani yang menggunakannya tidak dapat menjual kembali, tidak boleh menukarnya dengan petani lain, dan juga tidak boleh menyimpan benihnya untuk musim tanam tahun berikut. Mereka juga tidak diperbolehkan meneliti atau menganalisis secara genetik benih-benih tersebut.

Contoh kasus yang paling menghebohkan adalah Percy Schmeiser, petani kanola (bahan minyak goreng) di Kanada. Kasus itu dimulai pada 1997. Saat itu, para pengawas Monsanto masuk ke ladang Percy tanpa izin, mengambil tanaman kanola, dan membawanya ke laboratorium.

Di kanola tersebut ditemukan gen rekayasa kanola tahan herbisida buatan Monsanto, padahal Percy tidak pernah menanam kanola transgenik. Monsanto menuduh Percy mencuri, dan menuntut karena dianggap menanam kanola transgenik tanpa membayar biaya teknologi. Percy jelas berang. Soalnya, dia tidak pernah merasa menanam benih transgenik.

Oleh peneliti lain didapati bahwa kanola transgenik yang tumbuh di ladang Percy terjadi karena proses penyerbukan. Di wilayah tempat tinggal Percy, memang hampir seluruhnya petani kanola menanam kanola transgenik. Pada 21 Mei 2004, Mahkamah Agung Kanada menetapkan Percy bersalah karena melanggar hak paten.

Keputusan ini berarti memperluas hak paten Monsanto bukan hanya pada benih yang direkayasa secara genetik, melainkan juga diperluas hingga pada organisme hidup tempat gen itu mendekam sengaja atau tidak sengaja.

Percy pun diperintahkan membayar US$ 140.000 untuk biaya teknologi. Monsanto memungut biaya teknologi sebesar US$ 6,50 untuk tiap 25 kg benihnya. Pada 1998, Monsanto meraup US$ 200 juta lebih hanya dari ongkos teknologi tersebut.

Lepas dari biaya teknologi, Monsanto juga melebarkan sayap bisnis ke seantero dunia dan masuk ke bisnis makanan. Tapi, hingga saat ini, lebih dari 35 negara telah mengumumkan pelarangan impor produk rekayasa genetika atau menetapkan labelling untuk semua produknya.

Para pendukung rekayasa genetika mengklaim bahwa produk transgenik ini sudah dikonsumsi hampir di seluruh Amerika. Padahal, penduduk Amerika sendiri tidak menyadari telah mengonsumsi transgenik (lihat tabel). Sejak 1997, polling di Amerika menuntut adanya label terhadap produk-produk transgenik.

Dibelit Berbagi Kasus

KANTOR PT Monagro Kimia terletak di lantai tujuh Gedung Sentra Mulia, Rasuna Said, Jakarta. PT Monagro Kimia adalah usaha patungan Monsanto AS dan Salim Group. Interiornya ditata minimalis. Lambang Monsanto berupa rangkaian daun hijau dibingkai oranye terpatri di dinding panel kayu yang menghalangi pandangan tamu ke ruang dalam.

Di balik dinding itu terdapat ruang-ruang kerja yang tersekat rapi. Kantor ini juga menyediakan ruang khusus semacam kafe kecil dengan beberapa meja bundar. Setiap meja dikelilingi kursi yang warnanya berbeda dengan kursi di meja lainnya.

Saya sempat menikmati secangkir kopi sambil mengamati kegiatan di Pasar Festival Kuningan di seberang gedung. Waktu itu akhir Maret 2003, saya membuat janji wawancara dengan Monsanto karena ingin mengonfirmasi soal pasokan bibit kapas transgenik yang tiba-tiba distop di Sulawesi Selatan.

Saat itu, saya menemui Manajer Humas Monsanto dan Monagro, Wiwik M. Wahyuni. Monsanto ternyata ngambek dan mengadakan aksi mogok suplai benih. "Kami sangat prihatin dengan nasib petani itu, tapi ini juga menyangkut liability. Pengembangan bioteknologi itu sangat memerlukan peraturan yang tepat. Sampai saat ini, kami belum mendapatkannya," tutur Wiwik.

Monsanto ingin kegiatan pengembangannya tak dibatasi. Seperti tertera dalam Surat Keputusan (SK) 107/2001, Monagro memang berstatus "wajib lapor". Artinya, untuk menanam kapas, tiap tahun Monagro harus menunggu SK perpanjangan dari Menteri Pertanian. Hingga 2003, Monagro sudah tiga kali mendapat SK perpanjangan izin tanam.

Selain itu, Monagro juga sebal gara-gara hanya diberi lahan terbatas. Sebisa mungkin mereka ingin lahan yang jauh lebih luas lagi. Alasannya, Monagro sulit mengontrol bibit-bibit yang nyelonong tumbuh di luar area batasan. "Mestinya, kan, tak perlu dibatasi lahannya, toh kapas juga tidak bisa tumbuh di sembarang tempat," kata Wiwik.

Lahan terbatas tentu membuat ruang gerak Monagro sempit. Padahal, mereka berencana memasukkan tidak hanya kapas, melainkan juga jagung dan menyusul pula produk rekayasa teknologi yang lain. Tapi, saat itu, Monagro memang sedang di atas angin. Melihat nasib kapas dan petaninya yang terbengkalai, pemerintah membujuk Monagro menunda aksi mogok itu.Lucunya, apa yang dikatakan Wiwik itu berbeda dengan yang dilontarkan Monagro kepada pemerintah. Subagyono Darmowiyono, Direktur Jenderal Bina Produksi Perkebunan malah heran. "Waktu ketemu saya, Monagro tidak mengajukan keberatan apa-apa," kata Subagyono.

Monagro justru mengaku rugi. Dalam pembukuan Monsanto pusat, bisnis anak perusahaannya di Indonesia itu berturut-turut mengalami kerugian. Mulai Desember 2001 hingga Agustus 2003, Monagro merugi US$ 7 juta, US$ 1 juta, dan US$ 15 juta. Termasuk biaya restrukturisasi sekitar US$ 5 juta pada 2002 dan 2001. Sebanyak 30-an karyawannya terpaksa dipecat.

Boro-boro memikirkan nasib petani dan kapasnya yang terbengkalai, Monagro malah sibuk menangkis tuduhan lain. Tersiar kabar mengejutkan yang diberitakan di media-media lokal Amerika. Departemen Kehakiman dan Badan Pengawas Pasar Modal Amerika Serikat melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap Monsanto, induk Monagro.

Dari Saint Louis terdengar kabar, ada ketidakwajaran dalam laporan keuangan anak perusahaannya di Indonesia. "Tindakan itu bertentangan dengan kebijakan Monsanto," kata Charles W. Burson, General Counsel Monsanto, yang saya kutip dari New York Times.

Tindakan yang disebut-sebut tidak wajar itu adalah pembayaran secara tidak sah kepada seorang pejabat Indonesia sebesar US$ 50.000. Dalam keterangan persnya disebutkan, hal itu dilakukan oleh konsultan investasi yang bekerja untuk Monagro.

Buah Emas Kapas Disita

BULUKUMBA, akhir Juni 2004. Lahan luas berpagar hijau butut yang ditumbuhi ilalang tinggi itu tampak mencolok mata di jalan poros menuju ibu kota Bulukumba. Sebuah papan nama besar terlihat masih basah oleh cat. Di situ tertulis Pabrik Pengolahan Kapas Gennery.

Dulunya, tanah kosong seluas empat hektare itu ditanami dengan kapas transgenik sebagai proyek percontohan. Saat saya memasuki kawasannya, terlihat bekas-bekas ban mobil di sana-sini serta tumpukan karung berisi pasir yang membentuk alur. "Kemarin baru saja ada drag race," kata satpam yang menjaga di situ.

Di bagian belakang lahan yang ditumbuhi ilalang, berdiri gudang-gudang raksasa dan segelintir rumah penduduk. Kawasan tersebut sunyi senyap, tak ada kegiatan apa-apa lagi. Saya melewati sebuah kantor yang terbengkalai. Gedungnya seperti rumah besar yang kosong, muram dan berdebu. Halaman depannya tak berpagar. Hanya saja, masih tersisa sebuah nama yang terbentuk dari tanaman hias: PT Panen Buah Emas.

Melihat peluang bisnis kapas yang bagus, Harvey Goldstein, yang juga menjadi Konsulat Honorer Negara Gambia di Indonesia, tak mau kehilangan peluang. Selain sibuk menjembatani Monsanto dengan pejabat pusat dan daerah, Goldstein juga mendirikan PT Panen Buah Emas. Nama perusahaan ini bisa ditafsirkan sebagai arti dari nama pendirinya dalam versi bahasa Indonesia.

Dari segi bisnis, Panen adalah technical advisor atau technical assistance dari Harvest International. Komisarisnya adalah Rosita Goldstein, istri Harvey Goldstein. Sementara direktur pelaksana hariannya adalah Sumarsito, yang juga menjabat sebagai salah satu direktur Harvest International.

Panen menyewa sebuah ginnery atau penggilingan kapas di Bulukumba milik Departemen Perkebunan. Dalam perjanjian yang ditandatangani oleh Panen dan Branitha pada 3 November 2000, disebutkan tugas masing-masing. Branitha menyediakan benih, saprodi, sekaligus pembeli kapas. Branitha juga akan menggiling kapas di ginnery milik Panen. Selain menggiling, Panen bertugas mengamankan biji kapas agar tidak beredar di luar.

Ginnery yang dijalankan Panen dikontrak selama lima tahun dan dibayar lunas. Awalnya, kerja sama itu berjalan baik. Tapi kemudian, di tengah jalan, atas instruksi Monagro, Branitha menghentikan bisnis dengan alasan rugi. Panen pun berang. Tapi, Branitha menganggap Panen tak pantas sewot karena mereka sudah membayar kewajiban kontrak selama lima tahun. Panen tak mau tahu. Kapas dari musim tanam 2002, yang saat itu sedang dalam proses penggilingan, ditahan di gudangnya.

Aksi gugat-menggugat pun terjadi. Panen mengajukan gugatan lewat Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, meminta agar kapas tersebut disita dan kemudian dilelang. Branitha juga mengklaim, kapas tersebut tidak mungkin disita karena sudah dijual dan menjadi hak milik si pembeli, yaitu Monsanto Singapura.

Branitha malah balik menuding Panen melanggar kontrak karena bersedia menggiling kapas dari perusahaan lain. Branitha merasa sudah memenuhi kewajibannya membayar kontrak selama lima tahun. Tapi, Panen ngotot mengaku rugi. April lalu, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memenangkan tuntutan Panen dan memerintahkan Pengadilan Negeri Kabupaten Bulukumba melelang kapas tersebut.Sekarang bekas pabrik penggilingan itu terbengkalai. "Kami sedang menunggu pemilik baru untuk mengelola dan mengaktifkan kembali pabrik ini," kata Andi Hamzah Pangki, manajer pabrik itu.

Duit Deras Lobi Kencang

Harvest International terlibat dalam menggolkan kapas transgenik di Indonesia. Michael Villareal, calon suami Sophia Latjuba, salah satu tim sukses. Berapa uang pelicin yang digelontorkan?

AWAL JULI 2004

"Harvest International, selamat siang."
"Bisa bicara dengan Bapak Harvey Goldstein?"
"Ini dari siapa?"
"Saya dari majalah Gatra."
"Ada urusan apa?" suara manis wanita dari seberang berubah sinis.
"Saya ingin konfirmasi berita di koran soal kasus suap yang dilakukan konsultan Monsanto."
"Bapak Harvey-nya ke Amerika. Pulangnya nggak tahu kapan."
"Kalau Pak Michael Villareal?"
"Udah dipecat!"
"Kalau Pak Sumarsito?"
"Nggak ada di tempat!"

Hari-hari selanjutnya, setiap kali saya menelepon, sekretaris yang menerima telepon menjawab seperti robot yang disetel. Jawabannya: nggak ada, nggak ada, nggak ada... atau keluar, keluar, keluar...! Saat saya mengunjungi kantor Harvest International di lantai 10 Wisma Metropolitan I, Jakarta, belum sempat masuk, sudah ada satpam yang menegur. Pesannya: Anda harus buat janji dulu.

Suatu kali saya beruntung. Sekretaris yang lain menyuruh saya mengirim faks pertanyaan yang ditujukan untuk Bapak Sumarsito, salah satu Vice President Harvest International. Tapi tak kunjung ada tanggapan. Saya coba mengontak kembali.

"Harvest International, selamat siang...."
"Bisa bicara dengan Bapak Sumarsito?"
"Dari siapa?"
"Dari majalah Gatra."
"Ada urusan apa?"
"Saya mengajukan permohonan wawancara beberapa hari lalu, kapan saya bisa ketemu dengan Pak Sumarsito?"
"Kami tidak akan menjawab pertanyaan Anda. Kalau memang mau, hubungi pengacara kami saja."
"Oke, nggak apa-apa. Pengacara Harvest siapa?"
"Mmmm... begini ya, kasus itu sudah tidak ada hubungannya dengan kami. Sudah ditutup!"
Klik!. Tut, tut, tut... putus!

PT Harvest International adalah perusahaan konsultan investasi di Indonesia. Awal bulan Juni, saya masih rajin membuka website-nya di www. harvest-international.com. Di situ tertera visi dan misi, sejarah perusahaan, daftar klien, termasuk Monsanto. Juga tercantum sejumlah nama petinggi, di antaranya: Harvey Goldstein sebagai presiden atau direktur utama, Michael Villareal, Sumarsito, dan Amir Hamzah sebagai wakil presiden. Dua minggu belakangan ini, (mulai 19 Juli 2004) ketika saya kembali membukanya, website itu tak bisa diakses lagi.

Konsultan yang disebut-sebut terlibat meloloskan kapas transgenik ke Indonesia itu adalah Harvest International. Saat itu, Monagro kesulitan menggolkan kapas transgenik di jajaran pemerintah. Perusahaan yang dikomandani Harvey Goldstein, pria Yahudi Amerika, ini dikontrak dengan tarif sekitar US$ 30.000 per bulan. Di luar tarif tersebut, Harvest juga berhak mengklaim pengeluaran lain.

Dalam menggolkan kapas ini, Monagro memang habis-habisan karena kapas bukanlah satu-satunya varietas yang direncanakan masuk ke Indonesia. Sejumlah agenda sudah disiapkan oleh Monagro. Selain kapas, ada jagung, kedelai, ubi jalar, bahkan padi hasil rekayasa genetika.

Kapas transgenik sebenarnya hanya langkah awal. Tahun 2002, saat petani sedang kesal-kesalnya dengan perubahan-perubahan harga dari PT Branitha, Presiden Direktur PT Harvest International Indonesia, Harvey Goldstein, dan Direktur PT Monsanto Wilayah Sulawesi Selatan, Kobus Burger, datang mengunjungi Gubernur Sulawesi Selatan yang waktu itu masih dijabat H.Z.B. Palaguna di rumah jabatannya.

Burger menawarkan agar selain kapas, Sulawesi Selatan juga mengembangkan jagung transgenik. Seperti biasa, Burger memaparkan keunggulan dan keuntungan yang akan diperoleh petani bila menanam jagung ini. Ternyata, diam-diam Monsanto telah melakukan uji coba jagung transgenik di Kabupaten Gowa dan Takalar dua tahun terakhir, dengan hasil yang mereka sebut memuaskan.

Tentu saja tawaran itu langsung menuai protes dari Yayasan Lembaga Konsumen (YLK) Sulawesi Selatan. "Uji coba jagung transgenik dilakukan diam-diam dan menggunakan petani. Uji cobanya juga tidak diumumkan secara terbuka kepada masyarakat. Konsumen tidak pernah tahu apa dan bagaimana serta dibawa ke mana hasil uji coba itu. Ini, kan, sama saja dengan menipu," kata Ketua YLK Sulawesi Selatan, Zohra A. Baso.

YLK Sulawesi Selatan siap menuntut Gubernur Sulawesi Selatan H.Z.B. Palaguna bila memberi izin pengembangan tanaman hasil rekayasa genetika ini. Kala itu, Goldstein menjawab seruan YLK dengan tenang. "Saya tidak apa-apa padahal saya juga mengonsumsi produk transgenik," kata Goldstein. Peran Harvest International dalam menggolkan kapas transgenik memang sangat besar dan juga sangat mahal. Keberhasilan menembus birokrasi dan mengatasi tentangan masyarakat, antara lain, berkat "kerja keras" tim khusus di Monagro.

Tim khusus ini diberi akses luas untuk menjalankan tugas-tugas khusus. Salah satu tugas penting tim yang menyandang predikat "freedom to operate" itu adalah memuluskan proyek kapas transgenik. Anggotanya, antara lain, Goldstein, Michael Villareal, Hans Bijlmer --yang sudah dipecat-- dan beberapa konsultan Harvest serta empat pegawai Monagro.

Sayangnya, Harvest adalah perusahaan konsultan yang sangat tertutup. Mulut semua pegawai yang bekerja di situ seperti dijahit. Dalam suatu kesempatan, saya sempat bertemu dengan beberapa pegawai Harvest. Semua menggeleng. "Tanya sama bos saja," kata mereka seragam.

Suatu kali, saya bertemu dengan salah satu konsultan Harvest, Henry A. Wardiman, pada sebuah acara. Henry hanya tersenyum dan mengaku tidak tahu apa-apa. "Saya sudah tidak mengikuti perkembangan Harvest. Saya sudah tidak bekerja di situ. Tanya sama yang lebih tahu, deh," kata Henry sambil berlalu.

Ternyata banyak konsultan Harvest yang sudah dirumahkan alias dipecat. Dua tahun terakhir, Harvest sudah memecat lebih dari 120 karyawannya. Saya beruntung, setelah mencari dari sekian karyawan yang dirumahkan itu, ada juga yang mau bicara tapi dengan catatan. "Saya minta Gatra membuat surat pernyataan bahwa nama saya tidak akan disebut sebagai narasumber," katanya.

Saya memberi nama sumber itu dengan sebutan Adi. Ia pun bercerita bahwa sebagian besar pegawai Harvest ternyata tak berstatus apa-apa. Mereka bekerja tanpa surat kontrak, apalagi jaminan. "Semua pegawai adalah pegawai lepas tanpa status," kata Adi. "Makanya kenapa kamu sulit melacak mereka."

Nah, yang terlibat proyek seperti kapas transgenik itu disebut associate dan dipekerjakan berdasar proyek. Begitu proyek tersebut selesai atau bermasalah, orang-orang ini pun "dilepas". "Habis manis sepah dibuang, deh, pokoknya," kata Adi. Pegawai di Harvest International memang berstatus tak jelas. Malah, menurut Adi, baru tiga bulan inilah seluruh pegawainya mendapat kartu Jamsostek. Itu pun setelah salah seorang pegawainya didepak dan melapor ke Jamsostek.

Toh, meski tak mendapat status jelas, para associate Harvest dihargai cukup tinggi, US$ 175 per jam untuk jasa konsultasinya. Ini pula yang terjadi pada proyek kapas transgenik. Kalau dihitung-hitung, associate yang bertugas di daerah, seperti Goldstein yang turun langsung ke lapangan melobi gubernur, tentu saja membuat tagihan Monagro membengkak.

Dalam sehari, seorang associate yang bertugas ke daerah bisa mengantongi US$ 175 x 24 jam = US$ 4.200. Itu belum termasuk biaya hotel dan entertainment. Cuma, semua uang itu masuk kocek perusahaan, bukan masuk kocek associate. "Kalau associate, sih, tetap hanya terima gaji bulanan doang," kata Adi.

Bayangkan kalau associate yang jumlahnya bisa tiga sampai empat orang ini bertugas di daerah selama seminggu. Duitnya bisa melampaui tarif kontrak resmi Harvest US$ 30.000 per bulan.Memang, setelah menjalin kerja sama dengan Harvest, urusan kapas transgenik terbukti rada lancar. Tim yang dibentuk Harvest untuk menangani kapas ini dibagi dua. Sebagian melobi pemerintah pusat, yang lain di tingkat daerah. "Saya sih nggak percaya kalau duitnya cuma US$ 50.000. Jauh lebih besar dari itu," kata Adi.

Sebuah salinan dokumen yang saya dapat menunjukkan tagihan sebesar Rp 250.000.000 kepada Monagro dari PT Agro Marine Nusantara. Ketika saya mencoba menghubungi perusahaan tersebut lewat alamat dan nomor telepon yang tertera di kop suratnya, perusahaan itu tak ada. "Kalau nggak salah, sih, sudah ditutup. Tapi, ditutupnya kapan, saya juga nggak tahu," kata satpam di situ.

Keterangan di invoice itu menyebutkan: Miscelenous Expenses & Entertainment Sosialisasi BT. Cotton di Sulawesi Selatan. Padahal, yang bertugas melakukan sosialisasi adalah Harvest International. Harvest memang dibolehkan melakukan apa saja yang perlu dilakukan, termasuk mengeluarkan "uang entertainment" yang nantinya akan ditagih ke Monsanto.

Tagihan-tagihan tak terduga ini di antaranya adalah membiayai demonstrasi para petani ke DPRD dan DPR, termasuk membawa 52 petani terbang ke Jakarta saat Bungaran Saragih dituntut di pengadilan. Hasilnya memang kelihatan.

Paling tidak, pada Februari 2001 keluar surat keputusan Menteri Pertanian Bungaran Saragih. "Padahal, kan benih kapas itu sebenarnya masih diragukan di mana-mana. Masuknya mereka ke Indonesia mau dijadikan portofolio untuk masuk ke negara lain," kata Adi. Bahkan, di Afrika Selatan, tempat benih itu disemai, juga masih belum diterima. Tapi, berkat upaya dan lobi yang kencang dan aliran duit yang deras, kapas itu lolos.

Michael Si Pelobi

DI antara yang paling berjasa adalah Michael Villareal. Pria Amerika ini belakangan sering masuk tabloid dan tayangan gosip di televisi gara-gara hubungannya dengan Sophia Latjuba.

Michael adalah tangan kanan Harvey Goldstein dan sangat fasih berbahasa Indonesia. Ia juga terkenal charming dan pandai bergaul. Michael terkenal sangat akrab dengan sejumlah petinggi
di Indonesia.Untuk urusan kapas transgenik, Michael kebagian tugas melobi petinggi di jajaran Menteri Pertanian dan Lingkungan Hidup, bahkan hingga ke RI-1. Di rumah Nabiel Makarim dan Bungaran Saragih, Michael sudah seperti anggota keluarga. Michael pulalah ujung tombak Harvest International dalam melobi pemerintah pusat.

Saya sempat kaget ketika mendengar berita bahwa Michael dipecat dari Harvest International. Alasannya: Michael terlalu sibuk dengan urusan affair dan rumah tangganya sehingga mengabaikan tugasnya di Harvest.Tapi, menurut pegawai Harvest, "Dia sudah terlalu banyak tahu rahasia dapur Harvest, toh bukan dia bule pertama yang dideportasi," kata Adi. Bisa jadi Adi benar, karena beberapa media memberitakan bahwa Michael mengancam akan membeberkan berbagai penyelewengan yang dilakukan Harvest International.

Menurut Adi, status Michael sama dengan status dirinya dan karyawan lain di Harvest. Tanpa kontrak. "Meskipun dia dicantumkan sebagai vice president, sewaktu-waktu dia bisa saja dibuang. Apalagi sekarang dia lagi konflik dengan Harvey," kata Adi.Entah konflik internal apa yang terjadi dengan Harvey-Michael, sehingga Michael "diusir". Michael sudah harus keluar dari Indonesia pada Selasa 20 Juli 2004. PT Harvest International telah memesan tiket untuk kepulangannya. Tapi, rupanya Michael tak sudi menerima tiket itu dan membelinya sendiri untuk pergi ke Singapura.

Michael sendiri masuk Indonesia sembilan tahun lalu dan tercatat sebagai pemegang kitas (kartu izin tinggal terbatas). Ia dua kali masuk ke Indonesia menggunakan visa on arrival (visa kedatangan), April dan Mei 2004. Kemudian menggunakan visa kunjungan usaha untuk beberapa kali kunjungan, Juni 2004.

Suatu hari, saya menelepon Michael untuk bisa mengonfirmasi soal keterlibatannya membantu Monagro dengan berbagai cara untuk meloloskan kapas transgenik. Michael setuju bertemu di kantor pengacaranya, Indra Lubis, di Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan.Siang itu, Michael baru saja kembali dari Pengadilan Negeri Jakarta Selatan bersama sejumlah pengacaranya untuk menandatangani pengajuan gugatan cerai. Michael hari itu menyempatkan diri sejenak menonton tayangan "Silet" di SCTV yang membahas kasus cinta segitiganya. Setelah itu, saya, Michael, dan seorang pengacaranya ngobrol di ruang rapat.

Sayangnya, meski kami mengobrol panjang lebar, untuk keterangan yang sensitif, Michael ingin off the record dan belum terbuka. "Saya masih pusing dengan urusan perceraian. Selain itu, saya masih menunggu negosiasi dengan Harvest," kata Michael, kalem. "Tapi, kalau Harvest mau fight, silakan saja. Saya juga berani buka-bukaan."

Michael mengakui keakrabannya dengan sejumlah pejabat. Dia juga sempat bertanya pada saya berapa kira-kira duit yang beredar di bisnis transgenik. Saya jawab: "Di Amerika, yang diketahui hanya US$ 50.000. Saya tahu pasti lebih banyak dari jumlah itu."Sambil geleng-geleng kepala, Michael berkomentar: "Lima puluh ribu itu nggak ada artinya. Sepintar-pintarnya kamu, kamu tidak akan pernah mengira berapa nilainya."

Donatur Janggal Duit Beralamat

Laporan Utama

Penyumbang dana tim kampanye SBY-JK banyak menggunakan alamat palsu. Tomy dan Hartati Murdaya membantah isu. KPU memilih tak peduli.

SORE hari di Gedung Bank Bumi Daya, Rabu 28 Juli.

"Halo, ini Aksa. Eh, sumbangan kita ke tim sukses itu masuk pos mana, ya?"
"Itu untuk sumbangan, Pak, sifatnya sukarela," kata suara wanita di seberang.
"Apa kita menyumbang lagi?"
"Aturannya kan cuma sekali, Pak."
Pria berkacamata itu terlihat manggut-manggut.
"Oh, jadi itu sumbangan sekali? Oke. Ini ada wartawan yang nanya. Saya, kan, tidak tahu. Makasih."

HP Nokia 7250 itu pun diletakkan kembali di meja.Pria itu Aksa Mahmud, pengusaha asal Sulawesi Selatan, bos kelompok usaha Bosowa Group. Enam anak perusahaan Bosowa tercatat sebagai penyumbang dana terbesar dalam daftar donatur tim sukses Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla, yang kondang dengan akronim SBY-JK.

Maklum saja, Aksa --meski enggan dikaitkan-- adalah ipar Jusuf Kalla. Aksa sendiri tak bisa menutupi rasa bangganya terhadap Jusuf Kalla. "Siapa pun pasti bangga kalau ada saudaranya yang jadi calon pemimpin bangsa," kata Aksa, yang beberapa kali menolak menjadi menteri dalam kabinet Gus Dur. Selain membantu secara finansial, Aksa juga menyumbang tenaga.
"Kalau ingin menang, kita harus berjuang bersama-sama dengan tulus," Aksa menambahkan.

Dalam tim sukses SBY-JK, Aksa mengaku ditunjuk sebagai penanggung jawab iklan di TV, media cetak, dan radio. "Tapi biayanya tersentral di bendahara dan dilaporkan ke KPU. Saya tidak mengerti soal keuangannya," kata pria kelahiran Barru, Sulawesi Selatan, 16 Juli 1945 ini.

Aksa sibuk dalam urusan pemilihan presiden dan wakil presiden sejak Jusuf Kalla hendak mencalonkan diri jadi presiden lewat konvensi Golkar. Juga saat Jusuf Kalla bersanding dengan SBY. Tapi keterlibatannya dalam tim sukses SBY-JK, menurut Aksa, tak ada kaitannya dengan perusahaan. "Segala yang saya lakukan, dari bekerja 24 jam sampai doa di dalam salat, adalah murni inisiatif pribadi karena ingin membawa pasangan SBY-JK menjadi pemimpin masa depan," tutur Aksa.

Aksa memang mengakui bahwa anak-anak perusahaannya menjadi penyumbang dana kampanye SBY-JK. Namun, menurut dia, besarnya sumbangan tergantung kebijakan direksi dan sesuai dengan kemampuan masing-masing. "Semua perusahaan itu independen. Meski saya pemiliknya, saya tidak ada urusan dalam soal keuangan," kata Aksa, yang berkomitmen tetap jadi pengusaha dan ogah masuk dalam jajaran birokrasi.

Aksa sendiri tak terlibat sama sekali dalam penetapan jumlah apalagi teknis sumbangan. "Kan, ada tim audit yang akan meneliti kemampuan perusahaan untuk menyumbang," kata Aksa kepada Rahman Muliya dari Gatra.

Pernyataan Aksa senada dengan Ir. Babe Mage, salah satu direktur di PT Dataran Bosowa, perusahaan cold storage. Perusahaan ini memberi sumbangan Rp 600 juta untuk dana kampanye jagoannya. "Kami bertekad bulat mendukung JK dengan menyumbangkan dana agar lolos jadi wakil presiden nanti," kata Babe.

Dukungan dana tidak hanya mengalir dari Bosowa Group, juga perusahaan lainnya. PT Sumber Buana Samudra, perusahaan bongkar muat yang bermarkas di Surabaya, juga mendermakan dananya buat pasangan SBY-JK. "Dana itu berasal dari penyisihan keuntungan perusahaan yang telah dipotong pajak dan operasional," kata Tri Muhammad Ramadhan, Direktur PT Sumber Buana Samudra, kepada Taufan Luko Bahana dari Gatra.

Perusahaan yang bergerak dalam lingkaran rantai distribusi semen Bosowa ini merasa banyak berutang budi kepada pabrik semen tersebut. Tri malah mengaku, dana sebesar Rp 240 juta itu hanya sebagian kecil dari keuntungan penjualan semen Bosowa dalam satu tahun. "Saya sih tidak mengharapkan imbalan politik apa-apa. Yang penting, negara ini aman," kata Tri.

Dana sumbangan untuk tim kampanye SBY-JK tak hanya dari perusahaan, melainkan juga perorangan. Haji Makmur, misalnya, menyumbang Rp 10 juta. Pemilik CV Makmur di Makassar ini menyumbang atas nama pribadi. "Itu kompensasi pembelian tujuh unit mobil Kijang oleh CV Makmur dari Bosowa , karena kami diberi harga murah," kata Makmur.

Mustaqim, 37 tahun, warga Pondok Labu, Jakarta, juga menyumbang Rp 15 juta karena kekagumannya pada sosok Jusuf Kalla. Mustaqim bahkan rela menyambangi Gedung Anugerah, Jakarta, markas tim sukses SBY-JK. "Saya kenal pribadi Jusuf Kalla. Dia itu jujur, pintar, keluarganya juga baik," kata pria berdarah Minangkabau ini kepada Miranda Hutagalung dari Gatra.

Mustaqim mengenal Jusuf Kalla ketika masih bergelut di bisnis pengadaan barang. Meski sekarang sudah tak lagi berhubungan bisnis dengan keluarga Kalla, Mustaqim tetap merasa perlu menyumbang.Malah beredar kabar, beberapa konglomerat ikut menyumbangkan dananya, demi mendukung SBY dan JK agar bisa bersanding di kursi presiden dan wakil presiden. Di antaranya Tomy Winata, pemilik kerajaan bisnis Artha Graha Group.
Tapi, baik Tomy maupun SBY sama-sama ngotot menyatakan tak memberi dan tak menerima sumbangan (lihat: Saya Menikmatinya).

SBY malah merasa perlu mengadakan konferensi pers untuk membantah berita tentang keberadaan dana Tomy dalam rekening tim kampanyenya. Bantahan serupa disebutkan dalam silaturahmi dengan para ulama dan pimpinan Pondok Pesantren Al-Hamidi Banyu Anyar, Pamekasan, Madura, awal Juni lalu.

Bukan hanya Tomy yang terkena isu menyumbang tanpa mencantumkan nama. Siti Hartati Murdaya, Presiden Direktur PT Jakarta International Expo, juga diisukan menjadi salah satu penyandang dana kampanye SBY-JK. "Berita itu mengada-ada. Tidak benar. Anda dapat informasi itu dari mana?" kata Hartati balik bertanya.

Toh, penelusuran LSM Transparency Indonesia menemukan banyak penyumbang mencurigakan dalam daftar donatur tim kampanye SBY-JK. Ada 26 alamat penyumbang yang diduga fiktif. Dalam daftar, misalnya, tertera nama PT Bunga Cengkeh Abadi dengan alamat Jalan Sulawesi Nomor 2, Palu. Ternyata, perusahaan itu tak dikenal oleh masyarakat setempat.

Ada juga sumbangan sebesar Rp 200 juta atas nama PT Putra Pratama Kaili Jaya, yang beralamat di Jalan Rajawali Nomor 21, Palu. Tapi, setelah ditelusuri, yang ada di alamat tersebut adalah rumah tinggal Sonny Tandra, seorang pengusaha yang bakal dilantik menjadi anggota DPRD Tingkat I Sulawesi Tengah dari Partai Patriot Pancasila.

Dalam daftar penyumbang, ada pula nama PT Mega Pratama Murni yang beralamat di Jalan Sulawesi Nomor 20, Palu. Ternyata bukan perusahaan yang berlokasi di alamat itu, melainkan hanya sebuah salon kecantikan yang tak layak menyandang status PT.Tapi, Komisi Pemilihan Umum (KPU) seperti menutup mata terhadap temuan itu. "Meski banyak catatan, hasil audit dana tim kampanye dinyatakan sah," kata Ramlan Surbakti, anggota KPU.

Selama ada alamat, nama bukan soal penting. Meski duit tak punya alamat.

July 24, 2004

Jamur Pesawat Pilot Dibajak

Laporan Khusus

Industri penerbangan tumbuh pesat. Tenaga pilot laku keras. Bajak-membajak pilot jadi hal lumrah.  
KERUT di kening, ditambah dominasi warna putih pada kumis dan rambutnya menegaskan usianya yang ke-58. Meski begitu, pria dengan postur tegap bernama lengkap Ade Haumahu ini masih menyandang nama captain di tanda pengenalnya. Captain Ade --begitu dia biasa disapa-- adalah satu dari 157 pilot yang bekerja di perusahaan penerbangan Lion Air.

Seharusnya pilot yang punya jam terbang selama 39 tahun ini sudah masuk usia pensiun. Tapi karena jam terbang yang tinggi, Ade yang lulusan Akademi Penerbangan Indonesia (API) --sekarang Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug-- masih tetap menjadi pilot aktif. Memang, agar bisa tetap memegang kemudi pesawat, Ade harus melewati berbagai tes kesehatan di Balai Kesehatan Penerbangan, Departemen Perhubungan. Ketika itu, tahun 2002, Ade "dibajak" dari Merpati oleh Lion Air.

Menjadi pilot profesional seperti Ade memang enak. Pintu perusahaan selalu terbuka lebar untuknya. Padahal, banyak koleganya yang terpaksa dirumahkan sejak krisis ekonomi 1998. Setelah Sempati Airlines dinyatakan kolaps. Ditambah kemudian terjadi tragedi 11 September. Ratusan pilot dirumahkan termasuk Kapten David yang kini duduk sebagai Direktur Operasi Lion Air. "Pilot yang sudah mengantongi banyak lisensi umumnya melamar ke maskapai penerbangan luar negeri," kata David.

Tapi, setelah enam tahun masa krisis, perusahaan penerbangan bermunculan kayak jamur, situasi menjadi terbalik. Kini, banyak maskai kekurangan pilot. Pilot lulusan Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug di masa krisis 1998-2000, yang sempat nganggur, kembali diburu. Termasuk sejumlah pilot berpengalaman yang dirumahkan karena krisis juga diuber, termasuk Kapten David yang kini duduk sebagai Direktur Operasi Lion Air. "Pilot yang sudah mengantongi banyak lisensi umumnya melamar ke maskapai penerbangan luar negeri," kata David.

Perusahaan penerbangan Mandala, misalnya. Saat ini hanya memiliki 42 set pilot --42 pilot plus 42 kopilot-- untuk mengoperasikan 14 pesawat. Untuk memenuhi kebutuhannya, Mandala melatih 32 calon pilot baru. Mereka diambil dari sekolah penerbangan Curug, AURI, dan lulusan penerbangan luar negeri.

"Untuk menjadi pilot dibutuhkan waktu yang lama. Pilot tidak bisa dibentuk dalam waktu cepat," kata Marwan, pilot senior di Mandala kepada Rahman Mulya dari Gatra. Oleh karena itu daya tawar pilot terhadap maskapai penerbangan sangat besar.

Lion Air bahkan mengirimkan beberapa orang calon pilotnya untuk belajar di Beijing dan Beverly Hills. "Ada satu angkatan pilot yang sudah kami didik di luar negeri dan akan kembali sebentar lagi ke Indonesia," kata Hasyim Arsal Alhabsi, Manajer Humas Lion Air, kepada Dessy Eresina dari Gatra. Jumlah pilot Lion Air tercatat sebanyak 157 orang dengan 54 orang kopilot untuk mengoperasikan 23 pesawat.

Jumlah itu memang tak seberapa dibandingkan dengan Merpati. Sampai Juni 2004, Merpati memiliki 460 pilot untuk berbagai tipe pesawat yang jumlahnya ada 42 itu. "Lisensi pilot bisa ke mana saja," kata Supandi, GM Merpati Region Jakarta. Supandi menganggap, bajak-membajak pilot itu hal yang lumrah.

Tidak ada trik khusus yang dilakukan Merpati untuk menjaga agar pilotnya tidak pindah ke maskapai lain. Mereka hanya melakukan prosedur standar melalui pembinaan dan pengayoman dan bukan dengan materi. Apa boleh buat, jika akhirnya ada yang memilih peruntungan lain.

Menurut Supandi, sejumlah maskapai penerbangan di Indonesia memang memanfaatkan jasa mantan pilot Merpati. Termasuk maskapai penerbangan Garuda Indonesia, yang kini memiliki pilot dan kopilot 639 orang untuk menyetir 67 pesawat. "Keluaran Merpati itu laku semua," kata Supandi.

Tradisi membajak pilot, kata Supandi, tidak pernah dilakukan Merpati. Perusahaan ini lebih suka menerima pilot yang masih nol pengalaman, baik dari sekolah penerbang Curug maupun dari sekolah penerbang lain. Kalaupun kebutuhan tenaga pilotnya mendesak, Merpati biasanya menyewa. Seperti Boeing 737, yang disewa bersama krunya sambil menunggu kru Merpati yang disekolahkan. "Dulu kami sering memakai pilot dari TNI-AU, tapi setelah cukup tidak lagi," katanya.

Asmayani Kusrini

Virginia Digenjot Mati Harga

 
Petani tembakau bertahun-tahun pasrah dengan harga yang tak berubah. Malah terjadi kelebihan produksi dalam negeri. Pemerintah berniat menerapkan tata niaga tembakau.  
MUSIM tanam tembakau telah mulai di Desa Ketaon, Kecamatan Banyudono, Boyolali, Jawa Tengah. Saban sore, para petani pun asyik di ladang. Mujiyono, 52 tahun, salah satu dari mereka, tidak ketinggalan. Bersama istri dan anak-anaknya, ia sibuk menyirami tembakau umur 35 hari. "Setahun kita menanam tembakau cuma satu kali, selama kurang lebih tiga bulan," kata pemilik lahan tembakau seluas 2.250 meter persegi ini.

Panen mendatang, ayah empat anak ini berharap bisa memanen sekitar 400 kilogram daun tembakau. "Harga jualnya paling Rp 4.000 per kilogram daun tembakau basah," kata Mujiyono kepada wartawan Gatra Mukhlison S. Widodo. Kalkulasi duit yang bakal diterima dari pembeli, yang disebut Mujiyono sebagai "majikan", pun terbayang.

Harga jual tembakau bagi Mujiyono adalah harga mati. Dari waktu ke waktu, ya segitu. Sekalipun tembakaunya sudah kering, paling juga mentok di Rp 8.500 hingga Rp 9.000 per kilogram. Dari pengalaman Mujiyono, harga tembakau memang tak pernah membaik. "Pernah saat gegeran sekitar tahun 1998, harganya naik, tapi setelah itu, ya kembali seperti semula," Mujiyono menjelaskan.

Petani tembakau di Ketaon, juga di desa-desa lain di Indonesia, memang tak bisa berharap banyak. Para majikan yang biasa membeli hasil panenan tidak pernah melakukan perubahan harga. Padahal, biaya produksi dari waktu ke waktu terus meningkat. "Kalaupun akan ada kenaikan harga, para majikan pasti ramai-ramai menyewa lahan untuk menanam sendiri," ujar Mujiyono.

Cerita Sutjipto pun serupa. Tahun 2004 ini, petani tembakau asal Desa Panduman, Kecamatan Jelbuk, Jember, Jawa Timur, hampir merasa pasti harga tembakau bakal jeblok dibandingkan harga di tahun 2001, yang berkisar Rp 10.000 hingga Rp 12.500 per kilogram. Sutjipto merujuk pada sinyal yang diberikan produsen rokok besar seperti PT Sampoerna dan PT Djarum, Kudus, yang berkisar antara Rp 11.000 dan Rp 15.000 per kilogram. Itu pun harga maksimal. "Tapi harga rata-rata penawaran yang terjadi biasanya hanya Rp 9.000 per kilo," kata Sutjipto.

Harga jual segitu sejatinya tak akan mampu menutup ongkos produksi. Dua hektare lahan Sutjipto menghasilkan 16 kuintal tembakau. Ongkos penanaman bibit tembakau hingga bisa dipetik mencapai Rp 3,5 juta per hektare. Sedangkan biaya pengolahan tembakau basah menjadi kering mencapai Rp 3,5 juta per hektare.

Jadi, total ongkos produksinya adalah Rp 7 juta per hektare. Nah, bila harga jual tembakau hanya Rp 11.000 per kilogram, maka Sutjipto hanya mendapat Rp 8,8 juta per hektare dikurangi Rp 7 juta biaya produksi. "Kami tak pernah untung," kata Sutjipto.

Rendahnya harga tembakau diakui oleh Kepala Seksi Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian Jatim, Wahyuddin Syekhmakdali. Menurutnya, hal itu disebabkan berbagai faktor. Di antaranya adalah soal kualitas.

Di Jember, misalnya, ditanam berbagai jenis tembakau. Di antaranya jenis na oogst, bahan utama rokok cerutu. Jenis ini biasa ditanam di musim kemarau dan panen saat musim hujan dimulai. Ada juga voor oogst atau kasturi, untuk bahan rokok kretek. Jenis ini biasanya ditanam di akhir musim hujan dan panen akhir musim kemarau. Tiap tembakau memiliki mutu yang berbeda. Kualitas tembakau sendiri tidak ditentukan dari jenis tembakaunya, melainkan pada pemeliharaan yang tepat, proses pengolahan yang baik, waktu yang pas, panas yang cukup, dan tidak kena hujan.

Sayangnya, sering terjadi tembakau dari daerah lain masuk ke daerah produsen tembakau yang bagus. Jenis tembakau ini kemudian dicampur dengan tembakau yang memiliki grade yang tinggi (kelas bagus) --biasanya digunakan untuk cerutu-- seperti yang dihasilkan dari Deli (Sumatera Utara), Temanggung dan Wonosobo, (Jawa Tengah), Sumedang dan sekitarnya (Jawa Barat), serta Pamekasan (Pulau Madura, Jawa Timur). Buntutnya, kualitas tembakau pun menurun dan berakhir dengan harga yang jatuh. "Kalau sudah begitu, mereka menjerit mengatasnamakan petani. Petani pun menjerit karena ditekan pedagang," kata Wahyudin.

Padahal, menurut data Direktorat Tanaman Semusim Departemen Pertanian, tembakau dalam negeri pada umumnya cocok untuk semua jenis rokok yang diproduksi di Indonesia (lihat: Sebaran Tembakau Indonesia). Khusus rokok kretek, Indonesia dikenal sebagai satu-satunya produsen rokok kretek di dunia. Pasarnya sudah menembus Vietnam, Malaysia, India, Pakistan, dan negara-negara Timur Tengah lainnya.

Saat ini pun Indonesia tengah menggenjot penanaman tembakau jenis virginia di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Kualitasnya sudah menyamai kelas tembakau dari Zimbabwe. Tidak mengherankan bila pasar internasional yang selama ini dipasok dari Zimbabwe diambil alih Indonesia.

Sekalipun produksi tembakau dalam negeri sudah oke, beberapa pabrik rokok tetap mengimpor. Salah satu sebabnya, ya itu tadi, karena adanya ulah pedagang yang mencampur aduk tembakau sehingga kualitasnya di bawah standar. "Lagi pula, impor tembakau kan tidak dilarang," kata Wahyuddin.

Dalam sembilan tahun terakhir saja, Indonesia mengimpor rata-rata lebih dari 30.000 ton dengan nilai hampir US$ 100 juta. Sementara jenis tembakau lainnya, barley dan oriental, sekitar 14.500 ton dengan nilai US$ 54 juta. Belum lagi ditambah impor rokok yang nilainya mencapai US$ 26 juta. Jadi, total impor tembakau dan rokok rata-rata US$ 181 juta.

Selain mutu, rendahnya harga juga disebabkan adanya kelebihan pasokan. "Untuk tahun 2003, terjadi kelebihan suplai sekitar 38.000 ton," kata Benny Wachyudi, Dirjen Industri Kimia, Agro, dan Hasil Hutan Depperindag. Hal ini diperparah dengan menurunnya ekspor tembakau Indonesia. Praktis terjadi surplus.

Ekspor tembakau, khususnya tembakau rakyat dan na oogst  tahun 2002 sebesar 39.262 ton. Sementara tahun 2003 justru turun menjadi 32.548 ton. "Kelebihan pasokannya pun makin besar," katanya. Benny menyangkal kelebihan pasokan sebagai akibat impor tembakau. Pasalnya, data di Depperindag menyebutkan bahwa impor menurun 46.986 ton, pada 2002, menjadi hanya 38.319 ton pada tahun berikutnya.

Dengan kenyataan itu, pemerintah tergerak untuk menerapkan tata niaga tembakau. Tujuannya adalah untuk melindungi petani. "Dengan adanya aturan itu, diharapkan terbentuk harga yang baik sehingga mampu memberikan kehidupan yang layak bagi petani," kata Hasanuddin Ibrahim, Direktur Tanaman Semusim Departemen Pertanian.

Menurut Hasanuddin, tata niaga diperlukan karena angka impor tembakau cukup tinggi, khususnya tembakau virginia. Padahal, tembakau impor seperti virginia itu bisa diproduksi di dalam negeri. "Serapan tenaga kerjanya juga cukup besar," katanya. Di pabrik bisa menyerap 200.000 orang. Dan di tingkat petani bisa mencapai hampir 1 juta keluarga petani dalam satu musim tanam --empat sampai lima bulan.

Serapan tenaga kerja yang besar ini sejalan dengan produksi rokok yang trend-nya terus meningkat. Buntutnya, tentu ada kaitan dengan produksi tembakau. Karena itu, penting ada transparansi dari pabrik rokok soal besar kebutuhan tembakau mereka. "Selama ini, pabrikan belum cukup terbuka," ujar Hasanuddin. Benarkah?

Kepala Public Relations PT Sampoerna Indonesia, Yudy Rizard Hakim, membantah. Menurutnya, pihaknya cukup terbuka. Dalam pertemuan bersama antara produsen rokok dan sejumlah petani di sentra tembakau, selalu diungkapkan data-data kebutuhan tembakau. Pertemuan satu tahun sekali itu biasanya diadakan di Dinas Perkebunan. "Hasil pertemuan disampaikan ke pejabat setempat dan para lurah. Sayangnya, setiap kali panen, kami selalu saja mendengar keluhan petani," kata Yudy.

Karena itu Yudy menduga, ada sebab lain yang menjadikan harga tembakau hancur. Yakni, karena adanya sikap latah masyarakat. Ketika semua petani tahu harga tembakau per kilo lebih mahal dari harga beras, mereka berbondong-bondong menanam tembakau. "Akibatnya, panen tembakau jadi berlebih dan ini tidak disadari oleh petani," kata Yudy kepada Arif Sujatmiko dari Gatra.

 Asmayani Kusrini

July 23, 2004

Bermain Alkohol di 0%

Ekonomi & Bisnis

Investor Filipina mengincar pasar bir Indonesia. Produsen bir rame-rame memproduksi minuman non-alkohol. Salah satu jalan menyiasati pasar.

SEORANG bapak berkopiah tertegun menatap baliho raksasa yang terpasang kokoh di kawasan Slipi, Jakarta Barat. Di situ terpampang gambar sebuah botol bertanda Bintang dengan satu gelas berisi cairan kuning berbusa putih. Di atasnya tertera besar-besar tulisan: 100% Bintang 0% Alkohol. Bapak itu mengerutkan kening, lalu geleng-geleng kepala, bingung!

Pria paruh baya itu tidak sendirian. Hampir semua orang yang melihat baliho itu punya pikiran senada: apa iya ada bir tanpa alkohol? Adalah PT Multi Bintang Indonesia yang punya gawe. Perusahaan yang dikenal sebagai produsen bir itu, sejak awal Juli lalu, meluncurkan produk terbaru: Bintang Zero. Produk ini memang masih bayi, tapi cukup menimbulkan kontroversi. Sejumlah milis muslim rame-rame membicarakannya. Banyak di antaranya yang mempertanyakan "makhluk aneh" itu.

Namun, Multi Bintang punya jawaban sendiri. Bintang Zero adalah minuman malt bebas alkohol. "Ini adalah malt, bukan bir," kata Mark Egeler, Presiden Direktur PT Multi Bintang. Malt dikenal memiliki nutrisi tinggi karena mengandung karbohidrat dan diproses dari biji-bijian sejenis gandum. Selain itu, bahannya terdiri dari hopped wort, gula, sari rasa apel, karamel, asam sitrat, dan sodium benzoat. Sementara bir, bahan bakunya kurang lebih sama dengan malt. Hanya saja, pembuatannya dengan menggunakan metode fermentasi. Bir juga tidak memanfaatkan bahan sari rasa apel.

Ide kelahiran Bintang Zero sebenarnya ada sejak 2002. "Konsumen dalam negeri makin kreatif. Makanya, kami melihat peluang pasarnya ada," kata Egeler. Memang, pemakaian nama Bintang juga sempat menjadi perdebatan internal. Soalnya, selama ini Bintang dikenal sebagai minuman bir beralkohol.

Bahkan logo dan bentuk tulisannya sama persis. Bedanya, Bintang Zero berwarna biru merah, sedangkan Bir Bintang memakai warna merah-putih. "Kami memutuskan untuk memakai nama itu karena brand-nya sudah dikenal di masyarakat," kata Egeler. Tapi soal munculnya istilah alkohol 0%, diakui sebagai salah satu strategi pemasaran.

Memang, produksi Bir Bintang selama tiga tahun berturut-turut (2000-2003) mengalami penurunan sebesar 20%. Meski secara keseluruhan, Multi Bintang masih menguasai 60% pasar bir di Indonesia. "Permintaan konsumen yang merosot itu mengakibatkan perseroan mulai mengalihkan perhatiannya dari minuman beralkohol ke minuman ringan tanpa alkohol," kata Corporation Affairs & Communications Director Multi Bintang, Bobby H. Noya.Faktanya, konsumsi bir di Tanah Air memang tidak banyak. Yakni hanya 0,6 liter per kapita per tahun.

Angka ini kalah jauh dari Malaysia. Di negeri jiran itu, konsumsi bir mencapai 10 liter per kapita per tahun. Sementara itu, pasar bir di Indonesia dari waktu ke waktu juga menunjukkan angka penurunan. Tahun 2002, misalnya, menurun 12%. Tahun berikutnya, merosot lagi 5%. Tahun ini, pasar bir diperkirakan hanya sekitar 2 juta kiloliter. Pasar itu diperebutkan PT Multi Bintang Indonesia, PT Delta Djakarta, PT Bali Hai Brewery Indonesia, dan sebagian kecil bir impor.

Kesulitan memasarkan bir di Indonesia jelas terasa. Sebab, pasar di sini cukup unik. Indonesia bukanlah negara yang memiliki budaya minum minuman beralkohol. Selain itu, sebagai salah satu negara muslim terbesar di dunia, dengan sendirinya minuman beralkohol diharamkan. Ditambah lagi, daya beli masyarakat yang masih rendah.Tapi kenyataan itu tidak membuat bangkrut industri bir.

Meski pasar cenderung menurun, masih ada yang berani hendak menancapkan gigi di bisnis bir di sini. Investor "nekat" itu berasal dari Filipina. Awal bulan lalu, perusahaan bir asal Filipina, San Miguel, meletakkan batu pertama pembangunan pabriknya di Indonesia. Presiden Megawati pun dengan bangga mengumumkan masuknya investasi San Miguel itu ke Indonesia.

San Miguel sebenarnya bukan pemain baru di pasar bir di Indonesia. Perusahaan yang bergerak di bidang industri makanan, minuman, dan pengemasan itu ada di sini sejak 1976. Kala itu, San Miguel mendapat izin produksi bir merek San Miguel. Tahun 1993, San Miguel membeli PT Delta Djakarta Tbk, yang memproduksi Anker Bir dan Anker Stout, saingan berat Bir Bintang. Hanya saja, sejauh itu San Miguel tidak pernah diproduksi di sini.

Masuknya San Miguel sebagai pemain baru tentu akan membuat persaingan kian ketat. Sebab, segmen pasar yang disasar relatif sama. Karena itu, produsen bir mesti memeras otak mengatur strategi. Salah satu caranya, ya itu tadi, melirik pasar yang lebih luas. Seperti dilakukan Multi Bintang yang telah menawarkan minuman non-alkohol: Green Sands non-alkohol serta Fit n Fun untuk konsumsi anak-anak.

PT Delta Djakarta tak mau kalah. Awal tahun lalu, mereka memproduksi Soda Ice, minuman ringan yang mengandung vitamin. Hanya PT Bali Hai yang tampaknya belum tergerak masuk pasar non-alkohol. "Kami sampai saat ini hanya akan memproduksi bir," kata B. Hartono, Manajer Pengembangan Pemasaran PT Bali Hai Brewery Indonesia.

Saat ini, Bali Hai mengeluarkan tiga jenis merek. Pertama, Bali Hai Draft Beer, yang difokuskan untuk melayani pasar lokal. Kedua, Bali Hai Premium Beer, yang rasanya lebih menyengat dan dikhususkan bagi kaum high class serta untuk diekspor ke luar negeri. Terakhir adalah Bali Hai Panther Stout, yang difokuskan bagi peminum bir hitam.

Produk Bali Hai sudah tersebar di 60% dari seluruh provinsi di Indonesia, terutama Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Bali. Tiga tahun terakhir, mereka juga sedang menfokuskan promosi di Jakarta, Surabaya, Makassar, dan Medan. "Di daerah itu peminum sudah terbentuk, pangsa pasar juga jelas," kata Hartono kepada wartawan Gatra Alexander Wibisono.

Bicara soal target, Hartono mengatakan, pihaknya ingin menjadi perusahaan bir terbesar kedua. Berkaitan dengan itu, Hartono mengaku, di kala dua kompetitornya sedang turun, perusahaannya malah memiliki angka pertumbuhan yang stabil. "Pertumbuhan kami rata-rata 40%-45% per tahun," ujarnya. "Memang sih kami baru bisa mengambil pasar belum sampai 5%," katanya lagi.

Namun sepertinya hal ini tidak menyurutkan semangat Bali Hai untuk menjadi semakin besar. Peningkatan demi peningkatan dilakukan terus. Salah satunya dengan pelayanan 1 x 24 jam setelah order. Untuk bisa mencuri pasar tersebut, mereka juga melakukan below the line promotion alias langsung berinteraksi dengan target pasar. "Bentuknya promosi langsung di kafe-kafe," ujar Hartono.

Hal itu dilakukan, karena ada larangan pemerintah untuk menayangkan iklan di TV ataupun baliho di jalan-jalan. Selain itu, untuk mengembangkan pasar, Bali Hai juga melirik pasar luar negeri. "Saat ini kami sudah menjual ke Australia, Jepang, Malaysia, Singapura, bahkan sampai Afrika," katanya.S

Soal pasar bir impor, Hartono yakin mampu bersaing. "Dari segi pricing, mereka kalah," ujarnya. Apalagi, bir impor hanya laku di kalangan atas. Padahal, pasaran bir paling besar ada di kalangan menengah ke bawah. Malah, Hartono berani menyebut 80% dari seluruh pasaran yang ada.Khusus untuk target pasarnya sendiri, Bali Hai mengincar kalangan muda berusia 20-35 tahun. "Mereka ini bisa digolongkan peminum pemula," kata Hartono. Dengan begitu, Hartono mengaku, pihaknya punya peluang cukup besar untuk membentuk komunitas yang loyal terhadap brand Bali Hai. "Orang Indonesia itu merek minded," katanya.

Alur Rumah Dilabrak Microchip

Desain

Minimal house bukanlah aliran apalagi trend. Tercipta dari keterbatasan. Terinspirasi dari microchip.

PERNAH melihat rumah tak berwajah? Tak ada jendela, pintu utama, apalagi teras. Desain rumah rada nyeleneh itu tampak pada rancangan David Adjaye, seorang arsitek asal London. Di antara jajaran bangunan bergaya Victoria yang cenderung memamerkan lekuk dan detail "wajah" rumah, rancangan Adjaye malah seperti memperlihatkan "punggung".

Desain tak lazim itu sengaja dirancang Adjaye untuk mengakali lahan sempit milik kliennya. Tanah yang di atasnya berdiri bangunan tua bekas pabrik itu berbentuk huruf L berukuran 5x 6,5 meter persegi. Ukurannya yang mungil nyaris tak memungkinkan untuk membangun "rumah" sesuai nilai-nilai konvensional pada umumnya. Untuk merubahnya jadi rumah tinggal yang nyaman, Adjaye jelas harus melabrak pakem.

Dari jalanan, yang tampak hanya dinding hitam yang terbuat dari alumunium terpilah-pilah dan disusun seperti komposisi bata vertikal. Alur dan garis yang ditimbulkannya membuat bagian ini terlihat seperti memiliki jendela, sehingga tak menimbulkan "shock" di antara bangunan Victoria di lingkungan itu. Untuk masuk ke dalamnya, Adjaye hanya membuat pintu samping seperti lorong yang menembus ke bagian belakang bangunan. Tak ada yang akan menyangka apa yang ada di dalamnya.

Saat pintu masuk terbuka, sebuah ruang keluarga yang lapang langsung menyambut. Nyaris tak ada pembatas. Meski lahan dan ruang terbatas, toh Adjaye sempat-sempatnya membuat teras mungil yang pembatasnya dengan ruang keluarga hanya sebidang kaca. Hanya dapur yang diberi dinding.

Adjaye memilih struktur baja ringan, dan bukan beton bertulang, demi memaksimalkan ruang. Ruang privat yang terdiri dari dua ruang tidur, ruang mandi, dan ruang laundry semuanya ditempatkan di lantai dua. Karena rumah ini terjepit, demi mendapatkan cukup cahaya untuk seluruh ruang di lantai dua, Adjaye membuat semacam lubang di atas masing-masing ruang agar cahaya bisa leluasa menerobos.

Menurut Adjaye, ketika lahan makin terbatas, maka tampak luar hanya menjadi nomor dua. "Keindahan desain tetap penting, tapi lebih penting lagi kenyamanan bagi orang yang tinggal di dalamnya," kata Adjaye. Hasil karya Adjaye yang dinamai Elektra House ini masuk kategori rumah mini yang dirangkum dalam buku berjudul Mini House yang disusun oleh Alejandro Bahamon.

Dalam buku tersebut, sejumlah arsitek --dengan caranya masing-masing-- berusaha menjawab tantangan. Prinsipnya: kalau para ilmuwan bisa menemukan teknologi microchip yang bisa menampung ribuan data, mengapa dunia arsitektur tidak?Mini house --bukan minimalis-- bukanlah aliran apalagi trend baru dalam arsitektur. Mini house atau rumah mungil yang tercipta karena tuntutan dan bukan sebagai ajang gaya-gayaan sekelompok arsitek.

Dalam teori arsitektur baku, ruang publik dan ruang privat harus terpisah. Bahkan di masyarakat, seperti ada urut-urutan baku yang harus terpenuhi agar sebuah bangunan layak disebut sebagai rumah. Malah ada anggapan rumah itu harus terdiri dari sebuah jalan masuk, halaman depan, teras, pintu masuk, ruang tamu --bahkan kalau perlu koridor-- sebelum mencapai ke ruang lain yang lebih privat.

Tapi belakangan, banyak arsitek ataupun pemilik rumah terpaksa 'mengingkari' alur tersebut saat dihadapkan pada sebuah lahan yang sangat terbatas. Kadang-kadang, alur baku itu malah dikacaukan dengan sistem baru. Misalnya, menempatkan teras atau taman di bagian atap, tak ada ruang tamu, bahkan seringkali tanpa dinding pembatas. Lumrah bila sebagian besar arsitek menganggap bahwa mendesain rumah mungil adalah ujian nyata yang jauh lebih menantang daripada membangun rumah konvensional.

Tantangannya lebih pada tuntutan pemenuhan kebutuhan ruang tapi dalam kemasan desain dan struktur yang baik dan benar. Artinya, semua elemen-elemen baku yang tak perlu harus dihilangkan. Kemudian menyusun strategi agar pakem ruang publik dan privat bisa dihubungkan bahkan disatukan.

Memang, rumah mungil bisa ditemukan di mana-mana. Tapi umumnya, pembuatannya lebih didasarkan pada spontanitas atas kebutuhan, dan seringkali mengabaikan seni desainnya sendiri. Di Indonesia, hanya beberapa arsitek yang mau terjun menghadapi 'ujian' ini, dan berhasil. Di antaranya: Adi Purnomo, Tan Tjiang Ay, atau Ahmad Djuhara. Padahal, di Indonesia, khususnya Jakarta, kebutuhan desain rumah mungil sangat mendesak karena kaveling tanah yang makin kecil.

Toh, tak hanya masyarakat dan arsitek Indonesia yang terbentur masalah minimnya ruang. Beberapa arsitek dari berbagai belahan dunia pun asyik mencari solusi. Sejumlah eksperimen dilakukan dengan menggunakan berbagai bahan modern keluaran pabrik yang mudah didapat serta memungkinkan minimalisasi ruang.

Dalam konsep mereka, desain rumah mungil ini harus bisa menyelesaikan masalah. Baik dari segi proporsi bentuk, fungsi, hingga pada sistem strukturnya, dan definisi teknis."Walaupun mungil, desainnya harus berdasar pada perencanaan yang rasional," kata Engelen Moore, arsitek asal Australia. Kuncinya adalah bentuk yang murni, pada umumnya ortogonal (tanpa pemisah), dan mampu membuat ruang-ruangnya saling beradaptasi, tidak hanya pada ruang dalam tapi juga lingkungan sekitar.

------------------

Small House
oleh: Bauart Architekten

TANTANGAN utama proyek ini adalah untuk menciptakan rumah dengan komponen pabrikasi yang mudah dipasang, nyaman, bisa dibangun di mana saja, dan bisa dipakai untuk semua kebutuhan. Proyek rumah mungil ini dipromosikan oleh Architecture For Sale di Jerman.

Desainnya mirip kontainer dan bisa digunakan sebagai tempat tinggal atau kantor pribadi. Meski mengingatkan kita pada karavan, tapi dengan bantuan material panel kayu pabrik, rumah ini mampu menimbulkan kesan homey.

Seperti juga karavan, efisiensi ruang dan lahan menjadi perhatian utama arsiteknya. Setiap dinding memiliki jendela besar yang menghubungkan ruang dalam dengan sekelilingnya. Adanya jendela memungkinkan cahaya "tersalur" ke semua ruangan. Proporsinya yang mungil membuat rumah ini terlihat seperti "sculpture".

Strukturnya terdiri dari kayu olahan (mirip sistem knock down). Fondasinya juga dibuat dari prefabrikasi yang dapat dipasang di lokasi, dan juga mudah dipindahkan ke mana saja. Hanya butuh satu hari untuk bisa membangun rumah ini.Satu lantai terdiri dari area publik, sementara yang lain diperuntukkan untuk ruang pribadi. Di lantai bawah, ruangnya dibiarkan lowong dan pemisahan ruang publik hanya disamarkan oleh meja dapur yang sengaja dicat merah hingga menegaskan titik sentral rumah.

Black Box
oleh: Andreas Hendrickson (Halmstad Swedia)

PROPORSI bangunan, pengaturan dinding luar, dan ruang yang terbentuk, merupakan struktur dari keseluruhan sistem. Proyek ini diberi nama Black Box.Sebuah rumah kecil, multifungsi, dan juga mobile. Penampakannya yang unik, menurut arsiteknya, terinspirasi dari kotak sulap para magician. Tantangannya adalah membuat struktur yang bisa dibentuk di mana saja, dan cocok untuk berbagai tujuan.

Menurut arsiteknya, kotak hitam ini bisa digunakan sebagai tempat menyendiri, belajar, rumah musim panas, paviliun, kantor, atau rumah untuk mahasiswa. Setiap pemilik bisa menentukan fungsi dan menyesuaikan dengan lokasinya pula. Strukturnya terdiri dari sistem baja yang sederhana dengan balutan bingkai kayu yang juga sederhana serta ringan. Arsiteknya ingin menciptakan bangunan dengan fungsi ganda yang fleksibel sekaligus hemat energi. Ruang terbuka pada lantai atas berfungsi sebagai tempat tidur, dan bisa juga sebagai ruang kerja. Di bagian bawah, merupakan area service seperti dapur, kamar mandi, dan tangga.

Rumah ini tidak terhubung pada jaringan utilitas. Instalasi listrik, air, dan pembuangan ditempatkan di sebuah kontainer khusus yang ditempatkan di luar dinding.Tower Houseoleh: Frederick Phillips (Chicago)SEBUAH struktur sederhana, yang terdiri dari dua bagian bangunan tinggi yang berusaha memanfaatkan kondisi lahan yang sulit. Desain vertikal sengaja dirancang agar penghuninya bisa menikmati panorama kota dari berbagai sisi.

Bangunan ini mempunyai dua komponen utama, yang masing-masing didukung struktur baja dan struktur beton. Karena perencanaannya didasarkan pada komposisi vertikal, rumah ini dibagi menurut kegunaan dan alur sirkulasinya.Lantai dasar dan lantai atas merupakan area terbuka, yang berfungsi sebagai garasi dan teras. Dua lantai di bagian tengahnya, tempat semua aktivitas penghuni, sengaja dibuat tertutup. Lantai dua bersifat lebih pribadi, di mana terdapat dua kamar tidur dan sebuah kamar mandi.

Area service, yang terdiri dari dapur, ruang makan, dan ruang keluarga, justru ditempatkan di lantai 3. Ini sengaja dilakukan, karena dari lantai tiga memungkinkan akses yang lebih mudah ke teras atas. Dari teras terbuka itu, situ kita dapat menikmati panorama kota dari segala sisi.

Detail dan finishing-nya menekankan pada skala proyek yang kecil. Inilah sebabnya, struktur bajanya dibiarkan telanjang, meminimalkan profil dan memaksimumkan kegunaan area yang tersedia.

Dodds House
oleh: Engelen Moore (Surry Hills, Australia)

RUMAH mungil ini terletak di daerah pinggiran Sydney. Karena lingkungan sekitarnya merupakan campuran dari keberagaman model rumah tinggal, bangunan industri dan pusat kegiatan perkantoran, maka arsiteknya bebas bereksperimen dengan material industri.

Semua bagiannya ditentukan oleh ukuran standar dari panel-panel hasil pabrik yang menutupi seluruh permukaannya, kecuali untuk jendela dan pintu. Seluruh elemen eksteriornya disatukan oleh keseragaman warna perak. Meski terlihat sangat tertutup dari jalan, interiornya menawarkan suasana yang berlawanan.

Hampir seluruh ruangnya terbuka. Ruang keluarga termasuk ruang tidur menampilkan sense of transparency sehingga rumah ini tak terasa sempit. Arsiteknya sengaja memakai pintu dorong dari kaca tembus pandang sehingga nyaris tak ada pemisah antara ruang dalam dengan teras belakang.

Pintu geser lainnya ditempatkan di bagian kanan. Pintu ini sebenarnya tidak berfungsi sebagai penghubung. Begitu dibuka, tak ada lagi ruang kecuali sebuah kolam ikan kecil memanjang yang menjadi pemisah dengan dinding tetangga. Uniknya, dinding tetangga ini adalah dinding bata telanjang dari zaman Victoria sehingga tampak sebagai pajangan gratis bagi ruang keluarga.

Dua lantainya dihubungkan oleh tangga yang terbuat dari lembaran baja dan disangga oleh dinding kuning yang menembus ke atas. Dinding kuning ini juga berfungsi sebagai lemari penyimpanan. Di belakang dinding itu terdapat tangga menuju ke atap. Dari situ penghuni bisa menikmati pemandangan di sekelilingnya. Satu satunya ruang tertutup di rumah ini adalah kamar mandi yang menggunakan panel aluminium.

* Dari berbagai sumber