Pages

June 20, 2006

SAKSI HIDUP : PUTRA SANG FAJAR

Saksi Hidup, Rabu, 21 Juni 2006

20.00 WIB di TV7

Sukmawati Soekarnoputri berjalan menuju patung prolamator kemerdekaan, Soekarno-Hatta, di Jalan Proklamasi, Jakarta, 5 Juni silam. Ingatannya melayang pada sosok ayahnya, Ir. Soekarno, yang dulu tinggal bersama ibunya, Fatmawati. Ia pun tak mampu menahan airmatanya ketika mengenang kehidupan bersama keempat saudaranya, Guntur, Megawati,Rachmawati, dan Guruh, di istana ketika sang bapak masih menjabat presiden RI pertama.

Bung Karno lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901 dengan nama Koesno. Sewaktu duduk di bangku sekolah menengah Belanda (HBS), Soekarno muda kos di rumah HOS Tjokroaminoto, pimpinan Sarekat Islam, yang mempertemukannya dengan Agus Salim, Muso, dan Kartosuwiryo. Ia melanjutkan ke sekolah tinggi teknik Belanda di Bandung (sekarang ITB). Di kota inilah Soekarno semakin tenggelam dalam dunia politik dan bergaul dengan tokoh-tokoh pergerakan seperti Tjipto Mangunkusumo serta Douwes Dekker. Kemudian ia mendirikan Partai Nasional Indonesia yang menyebabkan dirinya ditangkap dan dibui di penjara Sukamiskin. Akhirnya Belanda membuangnya ke Ende, lantas ke Bengkulu.

Di pulau Ende, Frans Seda yang masih murid kelas dua SD, bertemu Soekarno pertama kali. Ia sempat kaget ketika sepuluh tahun kemudian bertemu di Yogyakarta, Soekarno masih ingat pertemuannya dengan Frans. Bahkan ia diminta menjadi Menteri Perkebunan, padahal Frans aktif di Partai Katolik yang beroposisi terhadap pemerintah Soekarno. Namun, karena kondisi politik yang semakin tegang dan PKI kian dekat dengan Soekarno, Frans menerima tawaran Bung Karno sebagai kekuatan pengimbang.

Sementara, ketika Soekarno menawarkan jabatan Menteri Transmigrasi, Achadi baru berusia tiga puluhan tahun. Kondisi politik saat itu sudah panas. PKI, tentara, dan partai agama saling bersaing berebut pengaruh. Atas nama persatuan dan kesatuan bangsa, Soekarno berusaha berada di tengah-tengah dengan ajaran Nasakom. Namun, penculikan dan pembunuhan terhadap tujuh tentara Angkatan Darat yang dikenal dengan Gerakan 30 September 1965 menjadi antiklimaks pemerintahan Soekarno. Melalui Surat Perintah Sebelas Maret, Soeharto mengambilalih kendali pemerintahan, dengan membubarkan PKI dan menangkapi orang-orang yang dianggap terlibat PKI, termasuk Achadi.

Mantan komandan pasukan pengawal presiden Cakrabirawa, Mauwi Saelan, mengingat hari-hari terakhir Soekarno di pemerintahan. Kendati masih menjadi presiden yang sah, Bung Karno dibatasi aktifitasnya sebagai tahanan rumah. Putri Bung Karno sendiri, Rachmawati Soekarnoputri, sulit bertemu ayahnya setelah peristiwa G 30 S. Bahkan, walaupun kondisi kesehatan ayahnya memburuk, tidak ada pelayanan kesehatan yang memadai bagi sang proklamator. Akhirnya, pada 21 Juni 1970, Putra Sang Fajar wafat lalu dimakamkan di Blitar, Jawa Timur

0 comments: