Pages

April 07, 2008

Mereka Yang Di Kanan Jauh

Ayaan Hirsi Ali
Partai ekstrimis kanan sudah muncul di Belanda sejak 1971. Tokoh-tokoh populis bermunculan. Dari Joop Glimmerven hingga Geert Wilders. Dari Hans Janmaart hingga Ayaan Hirshi Ali. Pada umumnya mengusung premis anti-imigrasi. Tapi sejarah politik mencatat, kelompok kanan-jauh bertumbangan di Belanda. Tapi selalu ada yang muncul menggantikan yang hilang.


Pemerintah Belanda sedang gusar. Mereka dituduh berbohong oleh seorang anggota parlemen, --siapa lagi kalau bukan--, Geert Wilders. Padahal, kalau mau hitung-hitungan, Pemerintah Belanda sudah mengeluarkan dana besar untuk menjaga keselamatan Wilders karena mulut besarnya yang tidak bisa berhenti berkoar.

Karena sesumbar Wilders lah, pemerinta Belanda pontang-panting mengirim delegasinya kesana kemari hingga ke negeri-negeri jauh hanya untuk memberi penjelasan tentang kelakuan ‘anak bandel’nya ini. Dan yah, tiba-tiba Wilders mengarahkan telunjuknya ke Pemerintah Belanda sambil berkata lantang: “kalian pembohong!”.

Drama yang terjadi di gedung parlemen Belanda pada Selasa tengah malam lalu itu membuat seluruh anggota partai yang duduk di parlemen terlihat gelisah. Pertanyaannya kemudian, mampukah mereka mengatasi Wilders yang terang-terangan mengambil posisi kanan jauh alias ekstrim kanan alias ultra kanan itu?

"Ultra kanan atau ekstrim kanan tidak akan pernah bisa diterima lama di negara ini,” kata Sybrand van Haersma Buma, anggota parlemen dari partai Christen-Democratisch Appel (CDA). Melihat kembali kebelakang, pernyataan Buma ini memang terbukti dalam sejarah politik di Belanda. Wilders yang membentuk partai Kebebasan (Partij voor de Vrijheid, PVV) pada 2006 lalu ini bukanlah yang pertama dan mungkin bukan juga yang terakhir.


Geert Wilders

Partai ekstrim kanan mulai muncul di Belanda ditandai dengan berdirinya Nederlandse Volks-Unie (NVU) atau The Dutch Peoples-Union pada 1971 dengan tokoh populisnya Joop Glimmerveen. Partai ini adalah salah satu partai paling ekstrim kanan. Ia memperjuangkan para penjahat-penjahat perang, para bekas anggota Nazi, dan menjadi partai paling rasis dan tumbuh militan saat kelompok-kelompok neo-Nazi ikut bergabung.

Karena dukungan Glimmerveen yang terang-terangan terhadap Adolf Hitler, para pendukung NVU akhirnya berkurang satu-satu dan kemudian dinyatakan sebagai partai terlarang pada 1978. NVU kemudian benar-benar tumbang di pertengahan tahun 80an. Sejumlah bekas anggotanya kemudian membentuk Centrumpartij (CP) atau partai sentral yang mencap diri sebagai nasionalis yang sangat mendukung program anti-imigran.

Kala itu, imigran yang dimaksud belumlah sespesifik parta-partai ekstrim kanan pasca 9/11. CP sempat memenangkan satu kursi di parlemen pada 1982 yang kemudian diduduki oleh Hans Janmaat, politisi ekstrim kanan yang terkenal dengan slogannya ‘Holland bukan negeri imigrasi’ dan ‘full ya full’. Baru dua tahun duduk di kursi parlemen, terjadi konflik interen dalam CP dan membuat Janmaat tersingkir dari kursi kepemimpinan di CP dan kemudian segera membentuk Centre Democrats (CD).

Janmaat sendiri tetap menduduki parlemen hingga 1986. Karena ekstrimnya posisi mereka di parlemen, CP dan CD jadi partai terisolasi dalam lingkungan parlemen. CP dan CD pun akhirnya berupaya untuk berdamai kembali. Tapi pertemuan mereka malah berujung kekacauan saat beberapa anggota anti-fasist membakar hotel tempat pertemuan mereka. Dari situ, mereka ditinggalkan pemilihnya dan kehilangan kursi masing-masing. Pada tahun yang sama CP dinyatakan bangkrut dan buru-buru memperbaiki diri dan mengganti nama menjadi Centrum Party 1986 (CP 86). Tapi partai ini tidak pernah berhasil mendapat kursi di parlemen.

CD yang sadar akan perlunya membangun imej kemudian membenahi diri dan akhirnya berhasil mendapat satu kursi pada pilihan 1989. Tapi imej yang mereka bangun ini tidak berlangsung lama ketika Janmaat kembali gatal melontarkan pernyataan-pernyataan kontroversial. Janmaat misalnya dengan berani menyuruh Menteri Keadilan saat itu Ernst Hirsch-Ballin untuk turun dari posisinya karena Ballin seorang Yahudi.

CD tetap mengusung sentimen anti orang asing hingga tahun 1998 dimana Janmaat akhirnya kehilangan tiga kursi di parlemen. Tidak seperti CP, CD masih ada hingga sekarang walaupun tidak lagi punya gigi dengan meninggalnya Janmaat pada 2002 lalu. Beberapa bekas anggota CP dan CD yang didepak keluar oleh Janmaat mencoba membentuk partai baru lagi dengan nama New National Party dan People’s Nationalist Netherland. Sayangnya, dua partai ini tidak pernah tumbuh besar.

Setelah itu, para ekstrimis kanan tidak banyak unjuk gigi hingga kemudian muncullah Pim Fortuyn yang membentuk partai Lijst Pim Fortuyn (LPF) pada 2002. Saat itu, peristiwa 9/11 baru saja terjadi. Gerakan anti-terorisme sedang digalakkan dengan menuding langsung ke masyarakat muslim. Pandangan masyarakat non-muslim pun berubah dan Fortuyn menegaskan hal tersebut di Belanda.

Salah satu agenda utama partai Fortuyn adalah memperketat aturan imigrasi terutama bagi mereka yang tidak bisa menerima dan beradaptasi dengan budaya Belanda. Fortuyn menolak disebut rasis karena dalam agendanya ia tidak menganjurkan untuk mendepak para imigran dari Belanda meski menegaskan agar imigran muslim dibatasi bahkan kalau perlu dilarang untuk masuk ke Belanda.

Belum sempat lama memperjuangkan agenda politiknya, Fortuyn dibunuh oleh aktivis animal rights (hak-hak hewan) Volkert van Der Graaf yang mengaku membunuh Fortuyn agar berhenti mengeksploitasi muslim dan membidik kelompok lemah dalam masyarakat untuk mencapai tujuan politik. Setelah kematian Fortuyn, anggota yang ditinggalkannya terus melanjutkan aktivitas partai ini hingga tiba disatu titik mereka tidak lagi bisa sepakat dan akhirnya memutuskan untuk membubarkan diri pada awal tahun 2008 lalu.

Setelah Fortuyn, muncul nama Ayaan Hirshi Ali yang sebetulnya berasal dari parta kanan-tengah People’s Party For Freedom and Democracy (VVD), partai yang sama yang ditunggangi Geert Wilders sebelum membentuk partainya sendiri. Namanya mulai banyak disebut karena pernyataan-pernyataan kontroversial misalnya dengan menyebut Nabi Muhammad sebagai pedophilia.

Nama Hirshi Ali makin terangkat ketika ia kemudian membuat Submission bekerja sama dengan Theo Van Gogh sebagai sutradara. Van Gogh terbunuh dan Hirshi Ali kemudian hidup dalam persembunyian. Hirshi Ali sendiri adalah sosok kontroversial. Ia datang ke Belanda sebagai pencari suaka yang kemudian ketahuan memalsukan identitasnya. Peristiwa ini membuat Ayaan terpaksa harus mundur dari kursi nya di parlemen Belanda.

Sebagai imigran yang anti imigrasi, Hirshi Ali banyak dikritik karena argumennya ; Majalah The Economist kemudian menyebutnya sebagai ‘bunglon’ yang lihai mengarang cerita, dan seorang oportunis sejati. Maklum, Hirshi Ali banyak ‘menjual’ ceritanya sebagai korban budaya Islam termasuk genital mutilation. Dan karena itu, ia sangat bersemangat menyerang Islam karena dendam pribadi.

Dari persembunyiannyanya, Hirshi Ali kemudian menyatakan dukungan sepenuhnya terhadap Geert Wilders dan ikut-ikutan menuduh pemerintah Belanda sebagai pembohong.

Selain munculnya Hirshi Ali pada sekitar 2003 lalu, kelompok ekstrim kanan juga makin diramaikan dengan bergabungnya Jan Teijn and Virginia Kapic yang membentuk National Alliance (NA), partai nasionalis yang terkenal rasis, neo – fasis dan punya kecenderungan nazism. Jan Teijn sendiri adalah mantan angota Centrum Democraten (CD) yang didepak keluar.

Secara ideologi, NA berbasis nasionalis dan sosialis, tapi mereka dari awal menekankan sikap mereka terhadap Islam. Mereka mengumpulkan petisi agar Islam keluar dari Eropa. NA cukup aktif hingga sekarang mengadakan acara-acara yang berhubungan dengan visi dan misi mereka. Hanya saja, mereka cenderung berhati-hati karena ancaman dari kelompok anti-fasis yang juga banyak tumbuh tapi tak terlihat di Belanda.

Dari berbagai partai yang berdiri di kanan-jauh ini kemudian bergabung Geert Wilders dengan partai dadakannya, PVV. Jika dilihat daftarnya, yang tersisa dari kelompok kanan-jauh ini hanya CD, NA dan PVV yang sedang naik daun. CD sendiri diramalkan bakal bubar sendiri tanpa pengikut dan tanpa kursi. Sekarang tinggal NA dan PVV. Kita tunggu, sejarah akan mencatat apa tentang nasib mereka.***

0 comments: