Pages

April 15, 2009

Setelah Fitna Tersebar

Hari itu Kamis 27 Maret 2008. Jam menunjuk angka 19.25 waktu Eropa bagian barat. Salju turun tipis dan gemulai ketika saya menerima sebuah pesan bertubi-tubi di telepon genggam dari berbagai kalangan. Isi pesannya nyaris sama : Fitna sudah online. Film karya Geert Wilders yang memang sudah ditunggu-tunggu itu.

Maka pada saat yang hampir bersamaan, seluruh penghuni dunia maya yang sudah lama menanti-nanti film itu berkumpul di dua ‘tempat nongkrong’ yang menyediakan layanan video online gratis, LiveLeak dan Youtube. Maka keindahan salju di bulan Maret yang langka itupun tak lagi menarik. Puluhan ribu orang di Eropa memilih memelototi layar komputer.

Di Liveleak, hanya dalam tempo satu jam saja, Fitna berhasil mengumpulkan ‘massa’ (baca : jumlah hits) sebanyak sekitar 75.000 untuk versi bahasa Belanda. Sementara versi bahasa Inggrisnya ‘baru’ mencapai sekitar 15.000. Kemungkinan pada saat itu, belum banyak yang menyadari bahwa film itu akhirnya muncul juga di dunia maya.

Jumlah hits itu seperti berpacu, hanya dalam hitungan menit, angka 75.000 seperti terpompa menjadi 712.152 untuk bahasa Belanda sementar versi bahasa Inggrisnya mencapai 210.191. Angka ini terus menderu hingga penyedia layanan kewalahan dan akhirnya tak sanggup menerima tambahan ‘pukulan’ (baca : hits).

Hasilnya, dua jam kemudian, Fitna ngadat untuk beberapa waktu lamanya. Setelah tersendat-sendat seperti kelebihan berat, akhirnya Fitna tak sanggup bergerak.


Itu barulah hitungan jam. Dan sehari setelah itu, LiveLeak mengumumkan bahwa karena alasan keamanan terhadap para staff, Fitna terpaksa ‘dihilangkan’. Mengutip pengumuman yang sempat saya catat: ‘LiveLeak has been left with no other choice but to remove Fitna from our server’.

Tapi, pada 31 Maret 2008, menjelang sore waktu Eropa dan sekitarnya, Fitna kembali bisa diakses, lebih mulus dan lebih lancar. LiveLeak sendiri tidak memberikan pernyataan seputar munculnya kembali Fitna.


Mungkinkah hanya dalam periode tidak lebih dari dua hari, para pengelola LiveLeak sudah sedemikian yakin bahwa para staffnya tidak terancam lagi?.

sebetulnya ‘ancaman’ itu tidak pernah ada dan hilangnya Fitna selama sehari tidak lebih dari masalah teknis?. Walahualam. Yang pasti, hingga tulisan ini ditulis, Fitna sudah mencapai ‘pukulan’ ke 4.732.099 dan dikomentari sekitar 1600 orang.

Sementara di situs tetangga, Youtube, angka pengunjung ini cukup sulit dilacak karena banyaknya anggota yang memasang Fitna di lahan pribadi mereka. Yang terlengkap berasal dari pengelola dengan nama maya fitnafilm dan memasang banner sebagai Official English dan mengunggah Fitna menjadi dua bagian. Lahan ini sudah mencapai hits 808.801 dengan komentar mencapai angka 34.572 sejak diunggah 27 Maret lalu.

*


Saya beruntung bisa menonton Fitna secara utuh, lancar, tanpa gangguan teknis. Usai menonton pertama kali, kesan awal: film ini penuh guntingan koran dengan judul bombastis ala koran lampu merah. Kesan berikutnya: film ini memang film copy paste : copy, gunting dan tempel.

Formulanya sederhana. Mengutip Al-Quran lalu menempatkannya keluar dari konteks dan ‘menabrakkannya’ dengan adegan-adegan yang bikin merinding plus shot-shot demonstrasi, kemudian mencoba meyakinkan dengan ‘memungut’ potongan-potongan kotbah, mulai dari pemimpin religius ekstrim hingga presiden Iran, Ahmadinejad.

Sejak menit pertama, terlihat sekali Fitna memang ingin memancing amarah. Dibuka dengan gambar pria berjenggot lebat, alis tebal dengan mata sangar yang mengenakan sorban berpucuk bom diatas kepala. Sejak muncul pertama kali pada 30 September 2005 dikoran Denmark, Jyllands-Posten, kita ‘dipaksa’ mengenali sosok ini sebagai Nabi Muhammad.

Maka setiap kali gambar ini muncul, otomatis komentar yang akan keluar kurang lebih ‘ini kan kartun Nabi Muhammad di koran Denmark itu’. Persepsi terhadap gambar ini akhirnya memang kembali ke masing-masing penonton.

Apakah masyarakat muslim ingin percaya bahwa gambar itu memang sosok Nabi Muhammad? Jika ingin percaya, maka gambar ini jelas akan membuat marah. Tapi jika tidak, maka gambar ini bisa dilihat dan dinikmati sama seperti gambar-gambar komik macam tokoh Hulk atau Spiderman misalnya. Saya sendiri selalu yakin, tak akan ada yang bisa menggambar Nabi Muhammad SAW.


Setelah gambar ini, mulailah kutip mengutip Al-Quran yang diawali dengan Surah Al-Anfaal ayat ke 60 yang isinya dikutip hanya setengah: prepare for them whatever force and cavalry ye are able of gathering. To strike terror. To strike terror into the hearts of the enemies, of Allah and your enemies.

Untuk versi bahasa Inggris, ada beberapa versi translasi Al-Quran, diantaranya versi M.H.Shakir, Abdullah Yusuf Ali, dan Marmaduke Pickthall.

Jika melihat versi kutipan film Fitna, maka versi yang paling mendekati adalah versi M.H. Shakir, versi yang banyak mengundang kontroversi karena diduga sebagai karya plagiat. Tapi, bahkan dari versi Shakir pun, Wilders sengaja mengabaikan fakta bahwa Surah Al-Anfaal (surah ke 8) terdiri dari 75 ayat yang tidak bisa dipotong-potong begitu saja. Dan bahwa surah ini punya latar belakang sejarah.

Disini, Wilders sungguh tidak adil, karena kalimat yang dikutipnya adalah bagian dari sebuah kisah panjang 10 halaman tentang kesewenang-wenangan dan ketidakadilan. Apalagi sampai mengulang ‘to strike terror’ dua kali.

Lalu Wilders pun memasukkan gambar adegan fenomenal ketika pesawat menghantam menara kembar pada tragedy 9/11 tujuh tahun lalu. Dilengkapi dengan rekaman-rekaman telepon para korban. Juga peristiwa pengeboman di stasiun kereta Atocha, Madrid pada 11 Maret 2004 lalu. Gambar-gambar orang terbakar, berteriak, dan wajah-wajah panik berseliweran dilengkapi musik yang menambah syahdu.

Bagian ini pun ditutup dengan sebuah potongan kotbah yang entah diambil darimana : Allah is happy when non-muslims get killed. Oh, Al-Quran dibolak balik pun tidak akan pernah ada kalimat seperti itu, kecuali mungkin jika ada Al-Quran palsu.

Dan sepanjang film kurang lebih 20 menit itupun, Wilder mengulang-ulang struktur yang sama: mengutip sepotong Ayat dari sebuah Surat, memasukkan gambar-gambar mengerikan yang berupa footage gambar dari berbagai rekaman entah itu tagedi berdarah atau demonstrasi, lalu menutupnya dengan –lagi-lagi—potongan kotbah dari berbagai Imam radikal yang entah berasal darimana.


Ada 4 potongan ayat dari berbagai Surat yang dicomot Wilders. Selain Surah Al-Anfaal, Wilders juga mengutip Surah An-Nisaa (surah ke 4) ayat 56 dan 89, dan Surah Muhammad (surah ke 47) ayat 4. Disela-sela adegan berdarah-darah sepanjang Fitna, Wilders juga memasukkan sebuah wawancara dengan seorang gadis kecil yang seperti diarahkan utnuk bilang bahwa orang Yahudi adalah monyet dan babi. Atau wawancara seorang pria bersorban yang seperti malu-malu bilang bahwa Islam adalah agama yang suci. Mereka bisa siapa saja.

Tampak jelas usaha keras Wilders untuk menghubung-hubungkan antara ayat-ayat Al-Quran dengan berbagai adegan serta statement-statement provokatif. Bagian terakhir, Geert Wilders memberi semacam kesimpulan –atau ‘ramalan’-- bahwa jika aktivitas muslim tidak segera dihentikan, maka suatu saat negeri Belanda pun akan dijajah oleh muslim. Dan sebagai bangsa Indonesia yang pernah dijajah oleh Belanda selama ratusan tahun, kita bisa ketawa dengan kesimpulan cengeng Wilders itu.


Fitna pada akhirnya hanyalah film kacangan yang disesaki dengan kebencian. Sebagai film propaganda, Wilders benar-benar memilih berbagai ‘potongan’ dan kutipan yang mencolok, lalu dijahit dengan tergesa-gesa. Dan seperti juga pakaian yang dijahit berasal dari potongan-potongan kain dengan warna-warna mencorong, Fitna jadi terlihat norak. Mengutip kata Abdullah Haselhoef, seorang imam asal Rotterdam tentang Fitna: “Jika orang buta bilang bahwa matahari itu gelap, masa iya kita harus repot?”

*

Setelah Fitna tersebar, toh banyak kalangan menarik nafas lega. Hingga saat ini tidak ada reaksi dari masyarakat muslim seperti yang dikhawatirkan. Tidak ada demonstrasi besar-besaran. Tidak ada aksi kekacauan setidaknya diwilayah Belanda termasuk Belgia dan sekitarnya.


Justru Wilders bakal disibuki dengan dampak film Fitna dari berbagai pihak yang tidak diduga sebelumnya. Pertama soal salah ‘mengenali’ orang. Dalam salah satu adegan tentang pembunuhan Theo Van Gogh, Wilders salah menempatkan foto Mohamed Bouyeri dengan Salah Edin, rapper warga negara Belanda keturunan Maroko. Salah Edin adalah rapper terkenal di Belanda yang albumnya Nederlands Grootste Nachtmerrie (Netherland Greatest Nightmare) dinobatkan sebagai Best Album di BNN Urban Awards, November tahun lalu di Rotterdam.

‘Ini menunjukkan seberapa dalamnya penelitian Wilders, hingga ia bahkan tidak bisa membedakan foto a world-famous, convicted murderer dengan seorang rapper. Wilders tidak punya hak untuk menggunakan foto saya tanpa permisi dari manajemen, perusahaan rekaman dan saya sendiri. Dia harus berhenti memutar film ini dan memperbaiki kesalahan tersebut atau dia akan berhadapan dengan hukum,” kata Edin seperti yang dilansir di situs pribadinya.

Belum lagi protes dari Robbie Muntz yang musiknya dipakai tanpa permisi oleh Wilders di bagian adegan Theo Van Gogh. Lalu ancaman hukum oleh Kurt Westergaard yang rupanya tidak tahu menahu kalau gambarnyalah yang dipakai. Protes dari Westergaard ini jelas tidak diduga sebelumnya.

Seperti yang dilansir oleh koran Belgia, De Morgen, Westergaard menuding Wilders tidak menghargai hak cipta dan karena itu penggunaan gambarnya dianggap sebagai pencurian; “Saya mendukung kebebasan berbicara dan berekspresi seperti yang sedang diperjuangkan Wilders, tapi saya tidak mendukung pelanggaran hak cipta seperti yang dilakukannya.”

Belum cukup sampai disitu. Stasiun Radio dan Televisi Nederlandse Moslim Omroep (NMO) mengancam akan menuntut Wilders melalui jalur hukum jika tidak memotong footage –lagi-lagi—yang digunakan tanpa izin dari arsip NMO. Stasiun radio televise yang berbasis di Hilversum ini memberi waktu 24 jam bagi Wilders untuk memotong footage milik NMO itu dari Fitna. Wilders rupanya sibuk mencatut, mencuri dan memotong milik orang sana sini untuk membuat Fitna.***


(bagian dari Laporan panjang, dimuat di Majalah Tempo edisi 37/VII/07 - 13 April 2008)

0 comments: