"Burung-burung itu sudah lama saya biarkan pergi," kata Salim lirih. "Yang tersisa hanya Soledad". Dengan tangan gemetar, jari keriputnya kemudian menunjuk sebuah baskom merah tua, yang didalamnya tertumpuk batu-batu berlumut, didekat jendela. Soledad seperti paham sedang jadi pembicaraan tuannya. Ia pun mengangkat kepalanya yang hitam dengan garis-garis kuning keluar dari air sambil mengangguk angguk.
Soledad --seperti namanya yang berasal dari bahasa Spanyol berarti kesepian atau kesunyian—memang terlihat sendirian hanya berteman batu-batu hitam yang juga diam. Kura-kura tua berumur 37 tahun itu adalah salah satu dari sedikit hiburan yang tersisa bagi Salim diusianya yang ke 100 tahun ini. Beberapa tahun yang lalu, rumah Salim terkenal karena riuh dengan kicau burung. “Beberapa tahun ini saya sudah tidak sanggup mengurusnya lagi,” kata pria kelahiran Medan 3 September 1908 ini.
Sambil mempersilahkan Tempo masuk ke apartemen kecilnya, Salim nampak tertatih tatih untuk duduk di kursi yang hanya berjarak 4 langkah dari tempat tidurnya. Ia pun tak bisa lagi berdiri tegak. Punggungnya bungkuk nyaris sembilan puluh derajat. Setiap orang harus membungkuk agar bisa menatap wajahnya yang terlihat sangat tirus dan pucat.
Dikepalanya, bertengger peci hitam. Dengan dibantu sebuah tongkat, Salim berhasil mencapai kursi tuanya yang nampak lapuk, dan duduk dengan susah payah. Gerakan Salim nampak mulai sangat terbatas. Sama terbatasnya dengan ruang-ruang di flat kecilnya yang berada dibawah atap bangunan apartemen berlantai 6.
Apartemen yang ditinggali Salim berada di salah satu sisi aksis utama dan bersejarah Paris yang memanjang dari Louvre melewati Champs-Elysées hingga ke La Defense. Meskipun berada di kawasan mentereng dan mahal, flat yang dihuni oleh Salim jelas tak tersentuh oleh kemewahan di luarnya. Lantai 6 gedung apartemen yang berbentuk U ini dibagi menjadi beberapa flat kecil yang salah satunya ditempati Salim.
Flat itu sendiri nyaris sesak, bukan hanya oleh benda-benda yang ada didalamnya tapi juga ukurannya yang tidak lebih dari 30 meter persegi. Terdiri dari sebuah kamar mandi plus toilet, sebuah kamar tidur, sebuah ruang tamu dan dapur.
Disamping pintu masuk terdapat toilet dan kamar mandi kecil, setelah itu kamar tidur. Dikamar tidurnya terdapat beberapa sketsa yang ditempel di dinding, serta sebuah poster yang berisi sejumlah ucapan selamat ulang tahun. Sementara disalah satu sudut kamar itu tergeletak kursi roda yang teronggok rapuh. Disebelah kursi roda inilah, ‘kamar’ Soledad diletakkan persis didepan jendela.
Bersebelahan dengan kamar tidur, terdapat ruang tamu kecil yang penuh sesak dengan kardus-kardus, TV, rak buku, sejumlah vinyl, sebuah meja dan sepasang kursi tua. Dindingnya penuh dengan lukisan-lukisan tersisa karya Salim. Meski punya rak buku, tetap saja buku-buku bertebaran dimana saja di ruang tamu, termasuk buku 3 jilid Tan Malaka karya Harry Poeze.
DI rak bukunya terdapat buku-buku seni tentang pelukis pelukis ternama dari Monet, Picasso, Van Gogh, Rembrandt dan banyak lagi. Selain itu juga terdapat jejeran buku-buku yang hampir semuanya berbahasa Perancis. Di salah satu sudut terlihat tumpukan kartu yang merupakan repro lukisan-lukisan Salim memenuhi sebuah bagian dibawah meja televisi. Kartu-kartu ini selalu diberikan kepada mereka yang datang berkunjung.
Untuk ukuran umur 100 tahun, Salim nampak lumayan sehat. Hanya saja, karena usia tuanya, selain bungkuk dan sulit untuk menegakkan leher, Salim juga mengalami gangguan dengan saluran kencingnya. Karena itu, Salim harus terus dilengkapi dengan urine bag , kantong khusus untuk menampung air kencing. Selama berbicara, biasanya aliran air terdengar keluar dari tubuh Salim.
Selain urine bag ini, Salim juga kesulitan untuk berbicara lancar karena air liurnya yang terus menerus mengalir. Pendengaran Salim pun tak lagi tajam sehingga setiap orang harus berteriak didekat telinganya. Selebihnya, Salim tidak mengalami gangguan apa-apa. Di usianya yang ke 100 tahun ini, Salim masih kuat makan apa saja tanpa pantangan.
Ingatannya tentang Indonesia tidak terkikis sedikitpun. Salim dengan bersemangat bercerita tentang mantan-mantan presiden Indonesia. “Soekarno itu baik tapi gampang diakali sama perempuan, apalagi sama yang dari Jepang itu loh,” katanya terkekeh. “Megawati itu, suaminya pencuri. Habibie pinter dia, lari ke Jerman. Saya suka sama Gus Dur. Yudhono juga, tapi dia terlalu lembek,” kata Salim terbata-bata. Kalau Soeharto? “Wah itu nggak usah ditanya deh,” katanya kembali terkekeh.
Salim pun mampu mengingat semua mantan-mantan duta besar Indonesia yang pernah bertugas di Paris, serta kenangannya tentang tanah Indonesia. “Sayangnya saya tidak mungkin pulang lagi ke Indonesia. Saya sudah terlalu tua; Mencapai umur 100 tahun ini tidak selalu enak rupanya,” kata Salim lirih. Ia menyesalkan kondisi tubuhnya yang tidak sanggup lagi duduk dan melukis. “Dan lagi, siapa yang mau mengurus orangtua seperti saya di Indonesia ?"
Sayangnya, semangat bercerita itu tidak didukung oleh kondisi tubuhnya. Setiap kali habis mengucapkan beberapa kalimat, Salim butuh waktu untuk menarik nafas dalam-dalam yang mengakibatkan lehernya terasa ngilu. Tapi kalau soal bola, Salim tidak mempan dengan gangguan kesehatannya.
Salim masih kuat menonton bola hingga larut malam. Untuk urusan nonton bola ini, Salim termasuk yang tidak bisa diganggu gugat. Saat TEMPO berkunjung, Salim sempat bergumam dalam bahasa Perancis : Tu es contente parce que tu es venue quand il n’y avait pas de football à la télé. (Kamu beruntung. Kamu datang saat tidak ada pertandingan sepakbola di TV).
Perkataan ini langsung disambut tawa kecil Madame Héléna, pendamping hidup Salim selama kurang lebih 60 tahun. Selain kerabat dekat Salim, tak banyak yang mengetahui keberadaan wanita Perancis berusia 90 tahun yang bernama resmi Héléna Salim ini.
Selain Soledad, keseharian hidup Salim juga didampingi oleh Madame Héléna, seorang mantan suster yang dinikahi secara resmi oleh Salim kurang lebih 10 tahun lalu. Seperti Salim, Madame Héléna juga mengalami gangguan pendengaran, selain itu ia tidak bisa berbahasa Indonesia.
Sepanjang percakapan Tempo dengan Salim, ibu Héléna hanya duduk diseberang meja sambil tersenyum-senyum jika mengenal satu dua nama yang disebut Salim. Sesekali, Salim juga menerjemahkan apa yang ia ucapkan sambil mengelus tangan keriput sang istri.
Sayangnya, Salim tidak mau menjawab–atau pura-pura budeg—setiap kali TEMPO mengarahkan pertanyaan ke hubungan mereka. Keterangan tentang hubungan mereka TEMPO dapatkan dari Madame Breval Anastasie, wanita Haiti, petugas sosial yang sehari-harinya mengurusi pasangan ini, serta dari Alijullah Hasan Jusuf, pegawai lokal di KBRI Paris yang sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Salim.
Meski secara langsung Salim tidak mau berkomentar tentang Madame Héléna, rasa saling sayang diantara mereka nampaknya tidak bisa ditutupi dari bahasa tubuh masing-masing. Tatapan mata kagum Madame Héléna setiap kali menatap Salim berbicara. Upaya Salim untuk menerjemahkan nyaris apa saja yang diucapkan kepada Tempo. Dan tentu saja sebuah lukisan potret Madame Héléna yang dipajang disalah satu dinding kamar tidur mereka.
Breval Anastasie yang tiap pagi datang dan pulang sore dari flat Salim juga menegaskan bahwa pasangan yang berbeda 10 tahun ini nyaris seperti sahabat sehidup semati. Menurut Breval, sehari-harinya mereka akan bercakap-cakap didepan jendela, menonton TV bareng, diperiksa oleh suster bersama-sama, makan berdua, lalu menghabiskan waktu diruang tamu mereka.
Selebihnya, Salim juga banyak merenung. "Satu-satunya yang saya inginkan sekarang adalah bisa melukis lagi. Seorang pelukis yang tidak melukis sama saja dengan pelukis yang sudah mati", kata Salim kembali menarik nafas kuat-kuat tanpa sanggup mengangkat wajahnya. ***
![]() |
| last picture with Salim in his appartment, September 2009 |

0 comments:
Post a Comment